Implementasi SNL, Ibarat Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlewati

2 12 2013

Implementasi Standar of Nursing Language (Standar Bahasa Keperawatan) bagi sebagian besar teman-teman perawat bahkan mungkin yang sudah sangat berpengalaman sebagai perawat, menganggap tidak ada manfaatnya. Atau merasa cukup dan puas dengan sistem pemberian pelayanan keperawatan yang selama ini dijalaninya, sehingga ngapain harus beralih menggunakan SNL?

Tapi bagi kami, ini adalah sejarah baru bagi keperawatan di rumah sakit kami, dimana profesi perawat betul-betul diuji apakah profesional, mandiri sekaligus dihargai. Saya mengibaratkan, dengan implementasi SNL, ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Apa saja yang bisa dikembangkan dari implementasi SNL ini?

1. Penyusunan Kewenangan Klinis Perawat

Kewenangan Klinis yang kami susun, mengacu pada kriteria yang jelas. Ada perbedaan kewenangan yang jelas antara PK I – PK V. Bahkan masing-masing kompetensi inti dari masing-masing spesialisasi, juga bisa ditunjukan, ketika kita menggunakan SNL ini. Sebagian sudah saya tuliskan di sini

2. Penyusunan Standar Asuhan Keperawatan

Standar Asuhan Keperawatan bukanlah hal yang asing bagi perawat di rumah sakit. Dengan SNL, SAK menjadi lebih ringkas karena menggunakan bahasa standar.

3. Penyusunan Clinical Pathway unsur perawat

Tugas berat bagi perawat di rumah sakit adalah ketika menyusun clinical pathway. Clinical pathway adalah tools yang digunakan oleh profesi kesehatan di rumah sakit sebagai panduan dalam penanganan pasien berbasis bukti. Clinical Pathway juga mengidentifikasi urutan yang tepat tentang intervensi klinis yang harus dilakukan, memiliki kerangka waktu dan target yang diharapkan pada pasien yang homogen.

Ketika kita tidak menggunakan SNL, dan yang didokumentasikan oleh perawat dalam asuhan keperawatan adalah aktifitas keperawatan dengan bahasa yang tidak standar, maka intervensi keperawatan akan sangat susah dimasukan dalam clinical pathway bersama profesi lain.

4. Penentuan tarif tindakan keperawatan dalam tarif rumah sakit

Tentang tindakan keperawatan dalam tarif rumah sakit sudah saya tulis di bab tersendiri di sini

5. Penilaian Kinerja Perawat

Penilaian kinerja perawat berbasis kompetensi, maka standar yang menjadi acuan adalah kompetensi pada masing-masing jenjang. Dengan SNL, kompetensi masing-masing jenjang terdefinisikan dengan baik, dan bisa disimak di tulisan saya di sini

6. Penyusunan database Sistem Informasi Keperawatan

Database SI Keperawatan membutuhkan focabulary yang standar. Maka ketika SI Keperawatan tidak menggunakan focabulary standar, SI Keperawatan hanyalah komputerisasi dokumen asuhan keperawatan, artinya hanyalah tulisan manual yang dipindahkan di komputer. Bukan sebuah system yang memudahkan perawat dan manajemen keperawatan, apalagi mampu menampilkan informasi yang bisa digunakan sebagai bahan acuan pengambilan kebijakan.

Sistem Informasi Keperawatan yang tidak menggunakan bahasa standar juga tak akan mampu menjadi DSS (Decision Support System) atau Sistem Pendukung Keputusan bagi manajemen keperawatan.

7. Penentuan jasa pelayanan perawat

Jasa pelayanan perawat sampai hari ini masih menjadi bahan perdebatan di hampir semua rumah sakit di Indonesia. Sebagai profesi yang mandiri, mestinya tidak perlu berebut prosentase dengan profesi lain dalam penentuan jasa pelayanan, kecuali pada hal-hal yang sifatnya kolaboratif. Kita perlu pahami, profesi lain memiliki standar tindakan sendiri, dan kita perawat juga memiliki standar sendiri. Lalu mengapa pula masih berebut bagian dengan profesi lain?

SNL adalah jawaban untuk menunjukan profesi yang mandiri sekaligus dihargai. Dengan SNL, tidak terlalu masalah apakah jasa pelayanan perawat akan menggunakan fee for service atau fee for performance. SNL mengakomodasi keduanya.

8. Penyusunan Continues Profesional Development Perawat

CPD didefinisikan sebagai pendidikan profesional setelah selesai pendidikan formal . CPD terdiri dari kegiatan pendidikan yang membantu untuk mempertahankan , mengembangkan atau meningkatkan pengetahuan , pemecahan masalah , keterampilan teknis atau standar kinerja profesional, semua dengan tujuan bahwa tenaga profesional dapat memberikan perawatan kesehatan yang lebih baik .

Bagi perawat, CPD dapat dilakukan dengan kegiatan formal  misalnya kursus, konferensi dan lokakarya , serta kegiatan mandiri seperti preceptorship dan journal reading. Dengan penggunaan SNL, Kompetensi perawat terdefinisikan dengan baik, sehingga hasil evaluasi terhadap komepetensi itu yang kemudian dijadikan acuan dalam penyusunan CPD.

9. Penyusunan Kompetensi Perawat

Sama halnya dengan Kewenangan Klinis Perawat, Kompetensi perawat menjadi terdefinisikan dan dapat diukur dengan jelas, dan tentu berimbas pada penilaian kinerja berbasis kompetensi.

Lalu mengapa kita masih ragu dan belum beranjak menggunakan SNL?


Aksi

Information

2 responses

25 02 2014
musdalifah

Tulisan menarik dan merupakan hal baru yg membuka wawasan.
Terimakash.

21 03 2015
kusnadijaya

Reblogged this on Kusnadijaya's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: