Apa Kabar Dokumentasi Askep

11 05 2013

Dalam tulisan terdahulu, saya sampaikan tentang posisi penting dokumentasi asuhan keperawatan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari rekam medik pasien. Dan itu wajib dilakukan oleh perawat mengingat Undang-Undang Rumah sakit telah mengaturnya. Bahkan dapat dikenakan sanksi pidana maupun perdata ketika profesi di rumah sakit termasuk perawat tidak membuat rekam medik pasien.

Menurut dr. Sofwan Dahlan, SpPF, ada beberapa persoalan yang muncul di lapangan:

  1. Data dicatat terlambat atau tidak pada waktu yang tepat
  2. Gagal mendokumentasikan perintah lisan atau gagal mendapatkan tanda-tangan dokter
  3. Data yang didokumentasikan tidak akurat atau tidak benar
  4. Form dokumentasi keperawatan terlalu detail

Terhadap persoalan 1-3, penyelesaiannya cukup sederhana. Cari akar persoalan, kemudian diintervensi secara individu atau kelompok, persoalan akan selesai. tetapi terhadap persoalan yang keempat bahwa “form dokumen keperawatan terlalu detail,”  ini memerlukan diskusi panjang redesain dokumentasi asuhan keperawatan, kebijakan dan sosialisasi masif kepada seluruh perawat.

Memang kita semua merasakan, betapa dokumentasi asuhan keperawatan sangat detail. Data yang dikaji meliputi biopsikososiospiritual kultural. Diagnosa Keperawatan juga formulasinya cukup panjang karena mencakup Problem Etiologi Symtom. Belum lagi perencanaan, implementasi dan evaluasinya.

Dengan beban perawat yang cukup berat di rumah sakit, rasio perawat pasien sampai hari ini juga rata-rata belum ideal, mungkin para pakar keperawatan perlu melakukan desain ulang (redesain) tentang dokumentasi asuhan keperawatan. Sebagai sebuah wacana yang pernah muncul, apakah Diagnosa tidak cukup dengan pernyataan “problem” saja yang dituliskan. Atau pengkajian, cukup data yang sifatnya abnormal / deviasi saja yang dituliskan dan lain-lain.

Memang secara konsep teori, dokumentasi asuhan keperawatan saat ini sangat ideal. Tapi melihat kondisi di lapangan, dokumentasi asuhan keperawatan banyak hanya sekedar rutinitas. Bahkan seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, Cowndon & Johnson, 2003 menemukan, karena pencatatan yang banyak dan memakan waktu kerja, perawat menjadi frustasi yang berakibat pada ketidakakuratan dokumentasi keperawatan.

Ini mungkin sebuah wacana dan pemikiran semata dengan melihat kondisi di lapangan. Kalau dijadikan sebagai sebuah usulan, kepada siapa saya harus menyampaikan? Mudah-mudahan para pakar keperawatan yang jumlahnya sudah tidak sedikit, akan tergerak menolong teman seprofesi yang ada di tataran klinis.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: