Naturalisasi dalam Keperawatan

29 09 2011

Untuk meningkatkan kualitas pemain sepak bola Indonesia, PSSI melakukan perekrutan pemain asing yang kemudian dijadikan pemain nasional dengan program yang disebut Naturalisasi. Dengan strategi ini, ternyata pemain-pemain nasional bisa menaikan performanya karena harus bersaing dengan pemain pendatang hasil naturalisasi yang kualitasnya di atas rata rata pemain nasional. Maka munculah nama-nama beken seperti Irfan Bachdim, Elloco Gonzales dll.

Strategi itu yang kemudian mengilhami kami. Naturalisasi. Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan kompetensi perawat secara merata. Kita tidak mendatangkan perawat asing untuk bekerja di rumah sakit kita, tapi kita melakukan naturalisasi perawat antar ruangan. Sebagai sebuah contoh saja, kompetensi perawat ICU dan IGD rata rata memiliki kompetensi yang lebih dalam merawat pasien-pasien kritis. Sementara di ruangan umum (rawat inap biasa) kompetensi perawat dalam penanganan kasus-kasus kritis sangat minim, karena tidak terbiasa.

Dengan naturalisasi perawat ini, diharapkan kompetensi dalam kasus kritis antara perawat ICU dan perawat ruangan umum menjadi sebanding atau paling tidak tidak terlalu berbeda jauh. Seperti apa bentuk naturalisasinya?

Beberapa orang perawat ICU (4 orang/24 jam shift) yang diangap memiliki kualifikasi menjadi mentor ditugaskan ke ruang perawatan umum selama kurun waktu tertentu (mungkin 3 bulan sangat cukup). Di ruang tersebut ditugaskan untuk melakukan pendampingan (dinas seperti biasa) sambil melakukan transfer of knowladge kepada partner shifnya di ruang tersebut. Lalu agar ruang ICU juga tidak kehilangan tenaga karena ditugaskan di ruang perawatan umum, maka ruangan umum yang kedatangan 4 orang perawat ICU itu, juga menugaskan 4 orang perawat di ruang itu untuk magang di ruang ICU dalam kurun waktu yang sama selama naturalisasi ini.

Bila strategi ini berjalan baik dan disiapkan orang-orang yang memang memiliki kompetensi mentor yang baik, maka dalam kurun waktu 3 bulan, telah melakukan upgrade pengetahuan dan ketrampilan terhadap 8 orang perawat. Dan jauh lebih baik, apabila strategi ini juga dilengkapi dengan modul dan unit kompetensi yang akan dicapai. Setelah itu dilakukan asessmen. Tentu menjadi sesuatu yang tidak pernah terduga sebelumnya, yaitu kompetensi menjadi sesuatu yang mudah dicapai tanpa mengeluarkan banyak biaya.

Lakukan pengukuran sebelum dan sesudah strategi ini dilakukan. Apakah ada signifikansinya atau tidak terhadap peningkatan kompetensi? Kalau memang ada, lakukan duplikasi ke ruang yang lain.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: