Jasa Pelayanan Perawat Spesialis

21 05 2011

Menempuh pendidikan tinggi perawat untuk saat ini, merupakan harapan dan keinginan banyak perawat di Indonesia yang sudah rata-rata berbasis D3 Keperawatan. Walaupun bila dilihat biaya yang harus disediakan sangatlah fantastis. Untuk setingkat S1 (Sarjana Keperawatan + Ners) STIKES atau Fakultas Keperawatan minimal 15 juta harus disediakan untuk selesai 5 semester. Dan masih belum ditambah biaya-biaya yang lain.

Untuk setingkat S2, tentu jauh lebih tinggi lagi. Mungkin alasan itu pula lulusan S2 Keperawatan di Indonesia didominasi oleh para dosen/pendidik yang memang kebanyakan memanfaatkan dana yang disediakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional.

Sementara teman-teman yang ada di tataran pelayanan / rumah sakit, bila tidak mendapatkan dukungan dana (tugas belajar) tentu akan sangat berat untuk bisa mencapai keinginan itu. Karena kita sama-sama tahu, gaji perawat lulusan S1 Keperawatan + Ners di rumah sakit, hanyalah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Maka tidak ada mimpi untuk bisa melanjutkan ke pedidikan yang lebih tinggi, bila tidak mendapatkan suppot dari institusi rumah sakit dia bekerja.

Bagi mereka yang karena nasib kemudian bisa lulus menjadi perawat spesialis, juga mengalami dilema yang cukup memprihatinkan bila dilihat dari penghargaan yang mereka terima.

Sebagai sebuah contoh saja, bila remunerasi perawat hanya mengacu kepada indek yang saya bahas sebelumnya di sini maka perbedaan pendidikan D3 Keperawatan dan S2 Spesialis hanyalah selisih sekitar Rp.200.000,- itupun bila Jasa Perawatan sudah rata-rata Rp. 1,5 juta/bulan. Artinya tidak ada signifikansinya strata pendidikan perawat spesialis dengan perawat lulusan D3.

Kita bisa bandingkan dengan profesi dokter. Dokter spesialis bisa mendapatkan jasa pelayanan Rp.20-40 juta/bulan dan bisa 10 kali lipat dari dokter umum. Sehingga menjadi dokter spesialis adalah idola untuk profesi ini. Karena memang ada perbedaan yang signifikan.

Dari pemikiran ini, perlu kiranya kita mendesain Jasa Pelayanan Perawat Spesialis, agar mereka yang sudah terlanjur basah menjadi spesialis tidak kemudian uring-uringan dan tetap semangat dalam bekerja karena memang mereka sudah mendapatkan penghargaan yang layak sebagai perawat spesialis.

Dan sistem indek langsung yang pernah saya bahas di sini mungkin bisa menjadi solusi. Hanya perbedaannya, indek langsung ini memang benar-benar diberikan by name kepada perawat spesialis tersebut.

Hanya saja ada beberapa hal yang perlu disiapkan :

  1. Seorang perawat spesialis harus mengidentifikasi tindakan-tindakan yang menjadi kompetensinya yang memang tidak bisa dilakukan oleh perawat setingkat S1 apalagi D3. Contoh Peripherally Inserted Central (PIC) Cathetet, Manajemen Shock: Vasogenic, Manajemen Asam Basa, Manajemen Elektrolit, Hipnotherapy dll. (contoh lengkap)
  2. Tindakan-tindakan yang sudah didentifikasi itu harus sudah masuk menjadi ketetapan (Perda untuk RSUD, Perbup/Pergub untuk BLUD RS dll) tentang tarif pelayanan rumah sakit.
  3. Sistem Informasi Rumah Sakit (minimal Billing) harus sudah dijalankan di rumah sakit, agar data menjadi lebih valid, bisa check dan re-check antara pelaksana dan team remunerasi.
  4. Besarnya pemberian jasa ini disesuaikan dengan aturan yang ada, hanya saja khusus untuk perawat spesialis dia mendapatkan by name atas nama perawat spesialis tersebut.

Bagaimana contoh real dari penghitungan jasa ini?

Ilustrasi dalam satu hari, seorang perawat spesialis melakukan tindakan khusus sebagai berikut :

Nama : Ns. Wahyu, MKep, SpMB

Jabatan : Supervisor, Konsulen Medikal Bedah

No

Tindakan

Tarif Jasa Pelayanan

Jasa Pelayanan 40%

1 Cardiac care : Acut Rp.   35.000,- Rp.  14.000,-
2 Modifikasi Perilaku Rp.   25.000,- Rp.  10.000,-
3 Relaksasi Otot Progresif Rp.   25.000,- Rp.  10.000,-
4 Reduksi Cemas Rp.   25.000,- Rp.  10.000,-
  Jumlah Rp. 115.000,- Rp. 44.000,-

Dengan ilustrasi di atas maka bisa dibayangkan, seorang perawat spesialis Ns. Wahyu, MKep. SpMB dengan memiliki kompetensi spesifik dan melakukan tindakan-tindakan yang spesifik juga, dia mampu memberikan kontribusi ke rumah sakit sebesar Rp.115.000,- sehari dan dia mendapatkan reword atas kinerjanya sebesar Rp. 44.000,- sehari.

Mungkin ada yang bilang, kalau seperti itu apa tidak dikatakan perawat seperti tukang?

Jawaban saya, ketika Model Sistem Pemberian Perawatan di rumah sakit masih belum memungkinkan, cara di atas akan menjadi solusi atas penghargaan seorang perawat spesialis yang saat ini jumlahnya terus bertambah.

Yang mungkin lebih ideal menurut saya adalah diberlakukannya Model Sistem Pemberian Perawatan dengan Case Manajemen. Sehingga seorang perawat spesialis, diangkat sebagai Case Manajer dan ketika dia sebagai Case Manajer, dia mendapatkan reward dalam bentuk paket harian.

Sebagai contoh, seorang Case Manajer (perawat spesialis) merawat 4 orang pasien terdiri dari 2 pasien Stroke Haemoragic, 1 pasien STEMI dan 1 pasien Coma Diabeticum. Semua berada dalam kelolaannya selama 24 jam, dengan grade ketergantungan total, dan tarif perawatan Case Manajer perhari Rp. 100.000,-. Bila dia mendapatkan Jasa sebesar 25% maka seorang Case Manajer dengan merawat 4 orang pasien, perhari dia mendapatkan jasa langsung sebesar Rp.100.000,- (25% x Rp.400.000,-)

Pertanyaannya……

Dokter spesialis mana di Indonesia yang mau dimanajeri oleh perawat, walaupun dia seorang Perawat Spesialis sekalipun. Bukan apriori, tapi kondisi demikian memang yang banyak terjadi di rumah sakit.

Tapi jangan berkecil hati teman-teman perawat spesialis, mudah-mudahan dengan munculnya RS Akademik seperti yag dirancang di UGM Yk, mimpi indah itu, tentang Case Manajer itu dapat terwujud karena adanya contoh/rujukan bagi para tenaga kesehatan di rumah sakit.


Aksi

Information

2 responses

30 08 2012
semaraputraadjoezt

Reblogged this on Jun.ID.

8 10 2013
akbar.arafah@ymail.com

pemerintah masih sangat kurang memperhatikan kesejahtraan profesi perawatdi indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: