Remunerasi Memang Menarik untuk Diperbincangkan

22 03 2011

Senin, 21 Maret 2011 saya diminta oleh Manajemen Perawatan RS Akademik Yogyakarta untuk menyampaikan materi Remunerasi dan Pola Tarif Perawatan. Rumah Sakit Akademik adalah rumah sakit yang baru berdiri milik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Peserta seminar dan diskusi itu direncanakan hanya diikuti oleh perawat sejumlah 19 orang.

Tapi sekali lagi, remunerasi memang sesuatu yang menarik untuk dibahas. Setelah panitia mengajukan proposal kepada manajemen RS, ternyata forum itu menjadi forum yang menarik untuk semua karyawan dan profesi di rumah sakit itu, alhasil Prof. Nartini pun yang merupakan bagian dari manajemen, dokter, tenaga penunjang, tenaga administrasi dan tentunya perawat menghendaki ikut dalam seminar itu.

Pembahasan awal yang sebenarnya kami ingin berbagi tentang remunerasi perawat dan SNL dengan teman-teman perawat, akhirnya desainnya dirubah menjadi pembahasan remunerasi tenaga kesehatan di rumah sakit.

Walaupun sebenarnya, yang kami bahas bukanah betul-betul remunerasi ideal seperti yang diterapkan di Departemen Keuangan, tapi kami hanya membahas bagian kecil dari remunerasi yaitu masalah incentif.

Karena kalau bicara remunerasi mengacu kepada Kepmendagri maka ada banyak hal yang harus dibahas diantaranya :

  • Gaji
  • Tunjangan tetap
  • Honorarium
  • Insentif
  • Bonus atas prestasi
  • Pesangon
  • Dana pensiun
Tapi tentu kami tidak membahas sedetail itu, kami hanyalah membahas sedikit yaitu tentang insentif yang diambil dari Jasa Pelayanan yang kami presentasikan pun hanyalah Study Kasus yang dilakukan di rumah sakit kami.

Sekali lagi, menarik…………..

Karena memang ini masalah nasib. Di saat pemerintah belum mampu untuk memberikan remunerasi kepada tenaga kesehatan terutama dokter sesuai dengan kompetensi dan tanggung jawab mereka, maka insentif/Jasa Pelayanan adalah solusi saat ini untuk memenuhi hajat kebutuhan profesi ini. Silakan disimak tulisan seorang bloger ketika dia membandingkan antara penghasilan dokter umum dengan polisi cepek di sini. Dan kemudian beliaupun melanjutkan tulisannya di sini. Semuanya rasional dan tidak ngoyoworo. Sayapun sebagai seorang perawat, ketika membaca tulisan itu bergumam dalam hati “iya ya?” *makasih mas Anton, sudah menyadarkan*

Dalam seminar itupun, saya awali dari ceritanya mas Anton tentang penghasilan polisi cepek. Dan memang, begitulah.

Pembagian Jasa Pelayanan atau insentive, tidaklah terlalu rumit kalau memang ada uangnya. Masalah utama kita adalah saat rumah sakit tidak memiliki pendapatan yang baik karena pasiennya sedikit, tapi kemudian meributkan jasa pelayanan. Tentu ini menjadi serius, karena rumah sakit juga butuh operasional, butuh biaya tetap pemeliharaan, akomodasi dll. Kalau pendapatan rumah sakit untuk pemeliharaan saja kurang, bagaimana mungkin karyawan akan berfikir tentang tambahan penghasilan semacam insentive.

Maka support kami untuk teman-teman RS Akademik yang memang belum ada pasiennya, mari bersama-sama untuk berjuang dan berkorban, bersakit sakit di awal untuk membangun rumah sakit. “Jangan sampai ada satu orangpun petugas RS Akademik yang merasa hanya jadi karyawan. Tanamkan dalam jiwa Saudara, bahwa Saudara adalah Pemilik Rumah Sakit. Manajemen RS harus mampu membangun mimpi kepada semua staf (dokter, perawat, penunjang, admin bahkan OB dan CS) bahwa RS Akademik adalah Kapal Pesiar yang akan berlayar di samudra luas. Akan menggapai harapan, meraih mimpi dan masa depan yang gemilang. Maka jadilah seluruh pegawai sebagai pemasar RS mengingat S Akademik adalah rumah sakit yang baru berdiri.


Aksi

Information

4 responses

24 03 2011
rizkiagustin

Terimakasih atas diskusinya, pak. Sebenarnya memang ingin lebih banyak diskusi tentang SNL dan remunerasi perawat (saja)…tp yaaa, alhamdulillah malah profesi lain akhirnya juga jadi tahu di balik “tarif” tindakan keperawatan.

jason :
Sama-sama Mba. Mudah mudahan bermanfaat.

29 03 2011
timuryani

Karena memang awal konsep kita adalah interprofesi.. one for all, and all for one.. :-) (bukan begitu pak?). Kita masih punya banyak waktu (walau terasa cepat bergulir begitu saja), mudah-mudahan masih diberikan kesempatan untuk diskusi dan sharing khusus yang menyangkut tentang profesi keperawatan.
Terimakasih, ini adalah sebagai awal yang indah bagi sebuah masa depan dan harapan yang hebat..

jason : saya pengin ikut menjadi saksi sejarah aplikasi interprofesi itu Mba. Tunjukan bahwa kita mampu dan bisa, asal tidak ada ego dari masing-masing. Keep spirits…

26 04 2011
jati

hmmm … keren.

karyawan merasa memiliki rumah sakit juga? hmm

8 07 2011
Hetty Ismainar

Saya jadi tertarik lebih jauh tentang remunerasi berbasis kompetensi, kira2 sudah ada contoh aplikasi penerapan remunerasi berbasis kompetensi ga yaa..? untuk tipe RS swasta kelas C dg kapasitas 144 TT, kebetulan kami sedang merancang untuk penerapan remunerasi ini.. pak jason bisa bantu kami..? terimaksih pak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: