Spirits Corner

14 02 2011

Dalam seminar bertajuk “Strategi Asertive menuju Sukses Mahasiswa” yang diadakan oleh salah satu STIKES swasta di Purwokerto dengan diikuti sekitar 230 peserta, saya mendapatkan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Bukan karena tidak ada jawaban, tapi saya khawatir jawaban yang saya berikan tidak memberikan motivasi atau dorongan apapun bagi mereka.

Pertanyaan itu begini, “Pak Jason, apa yang harus saya lakukan sekarang disaat saya tidak berminat sama sekali untuk mengikuti pendidikan di perawatan, karena saya masuk sebagai mahasiswa perawatpun karena terpaksa disuruh oleh orang tua.

Dan menurut dia, perasaan yang sama ternyata dialami oleh banyak mahasiswa yang lain. Dan asumsi saya, bisa jadi tidak hanya terjadi di STIKES itu saja, tapi sangat mungkin di sekolah sekolah perawat yang lain. Karena saya pun mendapatkan informasi, rata-rata mahasiswa yang masuk ke pendidikan perawat adalah karena tidak diterima di PT yang menjadi pilihannya. Daripada tidak kuliah, ya sudahlah masuk ke STIKES.

Kondisi ini yang kemudian, sampai di semester tiga, di saat mereka sudah mulai dikenalkan ke lahan praktek, mereka semakin tidak betah dan ogah-ogahan.

Kembali ke pertanyaan di atas, jawaban yang saya sampaikan cukup sederhana, “Nikmati saja prosesnya.”

Kemudian dengan jeda yang cukup, saya lanjutkan kalimat saya,

  • “Boleh tidak sih perawat jadi anggota dewan?”
  • “Boleh tidak sih perawat jadi pengusaha?”
  • “Boleh tidak sih perawat jadi trainer?”
  • “Boleh tidak sih perawat jadi dosen?”
  • “Boleh tidak sih perawat jadi Bupati?”
  • “Boleh tidak sih perawat jadi artis?”
  • “Boleh tidak sih perawat jadi ini, ini, ini, ini, dst……..

Dan setiap pertanyaan itu saya lontarkan, mereka serempak menjawab, “Boleeeeeh”, “Boleeeeeeeeeeeh”, “Boleeeeeeh”……

Dan menurut saya, pemikiran ini yang mesti harus dikembangkan di pola pikir mahasiswa perawat. Bahwa pendidikan adalah sebuah proses menjadikan seseorang untuk dewasa. “The object of education is to teach us to love beauty.” Walaupun yang diikuti adalah pendidikan perawat (STIKES, AKES, PSIK, PSKP dll) menurut saya tidak ada masalah kalau mamang memiliki kompetensi lebih di luar bidang kesehatan.

Kita kenal Tina Talia, presenter TVOne yang dokter gigi, kita juga kenal Tompi artis ngetop yang juga seorang dokter. Dan ratusan orang berbasik kesehatan lain yang jadi politikus, pengusaha atau birokrat.

Kita boleh bangga dong kalau ada seorang perawat yang mampu tampil di panggung nasional sebagai politikus, sebagai mentri, sebagai gubernur atau bupati. Atau bahkan ada perawat yang jadi bintang film keren, penyanyi kondang, ustadz, da’i, pengusaha dll.

Dan bagi seorang mahasiswa perawat, pemikiran itu menurut saya menjadi penting agar mereka termotivasi untuk belajar sebaik-baiknya, bukan sekedar belajar di bangku kampus di dalam kelas, tapi mereka menjadi semangat juga belajar berorganisasi, belajar kepemimpinan, belajar manajemen, belajar politik, strategi, belajar team, belajar bermasyarakat dll. Pokoknya setiap moment yang ada di kampus, dia manfaatkan sebanyak-banyaknya untuk belajar, bahkan di saat dia belanja ke pasarpun dimanfaatkan untuk belajar kehidupan.

Mahasiswa type seperti inilah yang pada saat mereka lulus keluar dari kampus, telah mampu bersinergi dengan lingkungan masyarakat, mampu mandiri, dapat diandalkan dan memiliki pengalaman yang cukup untuk hidup di dunia nyata (masyarakat).

Soal manjadi bupati, anggota dewan, pengusaha, trainer, artis adalah bukan sesuatu yang mudah, tapi bahwa semangat belajar untuk mengejar impian itu telah dilalui, dan kemudian pada akhirnya menjadi “perawat” juga, maka itulah jalan hidup yang mesti ditempuh.

Karena perawatpun pekerjaan yang mulia. Setidaknya itu yang diyakini oleh kita dan diajarkan oleh para dosen kita. Sehingga yang tidak suka di rumah sakit atau di Puskesmas, dirikanlah klinik, praktek mandiri, rumah bersalin, praktek bersama, Balai Perawatan dll, yang semuanya menuju kepada kemandirian kita sebagai profesi perawat, yang layak untuk dibanggakan.


Aksi

Information

One response

14 02 2011
badroe

Benar pak. tingkatkan kemampuan diri. Perawat adalah basic kita, namun tak dipungkiri kita sendiri , masing-masing memiliki berbagai kelebihan yang dapat dikembangkan pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: