Tangga Kepemimpinan

1 02 2011

Renald Kasali, PhD dalam buku Re Code, menulis tentang tangga kepemimpinan, yang ini sesungguhnya dapat dipraktekan oleh para manajer keperawatan agar mereka mampu me-re-code dirinya menjadi seorang pemimpin. Ada lima tangga kepemimpinan yang ditawarkan oleh Beliau.

Level 1 : Beliau sebut sebagai Jabatan.

Sebenarnya dia bukanlah seorang pemimpin, tapi hanyalah pemangku jabatan. Dia menjadi pemimpin karena Surat Keputusan (SK). Maka di level ini ada Direktur, Kabid, Kabag, Kasie, Kasubag dll.

Orang-orang yang mementingkan jabatan akan memperebutkan jabatan. Perangkap seperti itu terjadi hampir di semua Perusahaan, Lembaga, Universitas dan sebagian besar perusahaan besar. Tidak adanya pemimpin membuat sulit keluar dari krisis. Masalah kronis keperawatan hampir terjadi di semua rumah sakit di Indonesia. Tapi dari tahun ke tahun tidak pernah bergeser, apalagi keluar dari permasalahan kronis itu. Perawat dengan pendidikan tinggi juga sudah sangat banyak, tapi pendekatan-pendekatan penyelesaian masih dengan cara-cara yang biasa. Padahal masalahnya dari hari ke hari sudah berbeda dan kita tidak bisa menggunakan “obat lama”  atau cara-cara lama untuk mengatasinya.

Celakanya orang-orang seperti ini bukan hanya menjaga posisi mereka saja, melainkan juga mencegah orang lain menjadi pemimpin. Maka untuk mendukung perubahan, orang-orang yang terpanggil harus berani keluar dari tradisi dan me-Re-Code dirinya menjadi pemimpin (menghayati tangga-tangga dari sekedar Posisi / level 1 ke Personhood / level 5 dan membiarkan diri diuji oleh pasar.)

Komunitas perawatan punya kewajiban mendukung transformasi dari proses Re-Code The Leader ini. Caranya macam-macam, yaitu dengan memberi pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan untuk memoles kepribadian dan cara berfikir baru, kekuatan dalam berempati, membangun hubungan, presentasi, motivasi dll dan menyediakan panggung-panggung sementara agar benih-benih kepemimpinan mampu bertunas.

Level 2: Permission

Posisi pemimpin level satu dapat dianggap sebagai “pintu” untuk memberi perintah dan memimpin. Tetapi Surat Keputusan saja tidak cukup. Seorang pemimpin yang disegani adalah pemimpin yang bekerja sepenuh hati dan mencintai pekerjaannya. Ia sadar betul bahwa prestasi hanya bisa dicapai dengan memimpin orang.

Karena kita bekerja dengan orang, maka bangunlah jiwa mereka dan sentuhlah hati mereka. Jangan abaikan mereka, tetapi bangunlah spirit hidup mereka. Jika ini terjadi, maka mereka akan berubah dari patuh karena harus, menjadi patuh karena diperhatikan. They follow you, because they want to.

Level 3: Production

Pemimpin level satu punya kecenderungan hanya sekedar melaksanakan tugas, dan menghabiskan anggaran yang dialokasikan pada kegiatan-kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya. Mereka hanyalah sekedar kuncen atau penjaga pintu. Mereka lebih mementingkan atau dituntut melakukan sesuatu “prosedur” ketimbang mementingkan “hasil” dari sebuah kegiatan/tindakan.

Pada level tiga, pemimpin mulai berfikir sebaliknya, prosedur perlu dipatuhi, tetapi hanya prosedur yang memberi hasil yang besar bagi organisasi. Di sini pemimpin lebih berorientasi pada hasil (result based) ketimbang prosedur (procedural based).

Seorang manajer keperawatan haruslah orang yang mencintai pekerjaan dan produk yang dihasilkannya, bukan seorang titipan atau seseorang yang di “fit and propertest” karena kemampuan manajerialnya semata. Apa yang mereka lakukan akan tercermin dari hasil yang mereka dapat berikan. “They follow you because what you have done for the organization.”

Demikian pula bagi bawahan dalam menilai pemimpinnya. Mereka tidak cukup dihargai karena jabatan atau kasih sayangnya saja, melainkan juga karena prestasi kerjanya. Apa yang mereka berikan pada organisasi akan menentukan kekuatan mereka. Sebab prestasi kerja atau hasil (production atau result) akan memberikan kesejahteraan dan kebanggaan. Itulah sebabnya pemimpin-pemimpin ini sering dikagumi (admired).

Tetapi seperti sebuah perkawinan, seorang yang memperoleh surat kawin tidak serta merta dikagumi karena mampu memberikan nafkah dan kasih saying kepada keluarganya

Demikian dengan seorang pemimpin. Ia boleh cerdas dan hebat, berprestasi bagus untuk perusahaan atau masyarakat, tetapi apabila ia tidak peduli pada bawahannya, maka ia bukanlah seorang pemimpin.

Level 4: People Development

Mengubah para pemangku jabatan dari sekedar berorientasi pada jabatan (level 1) menjadi peduli (level 2) dan berprestasi (level 3) adalah sebuah prestasi. Inilah yang biasanya dilakukan dalam transformasi dari bed company menjadi good company. Tetapi di era persaingan sekarang, being good (menjadi baik) saja tidaklah cukup.

Yang dibutuhkan adalah upaya transformasi maksimal, full speed, dari sekedar being good menjadi great leader. Dan dua hal berikut inilah yang dilakukan oleh para great leader, yaitu pengembangan sumber daya manusia (people development) dan personhood (kepribadian, respek).

Pada level 4, seorang yang hebat dan peduli terhadap staf dan karyawan-karyawannya, perlu memperhatikan pengembangan mutu dan karakter mereka (karakter adalah segala tindakan yang dilakukan, dan tetap dilakukan sekalipun tak ada satupun orang yang melihatnya). Pada level ini, pemimpin bukan hanya menjadikan bawahan menjadi pengikut, melainkan menjadi coach bagi mereka untuk menjadi pemimpin sejati. Ia melahirkan pemimpin yang bukan hanya akan menggantikan dirinya saja, melainkan menempatkan dan memasarkan mereka pada posisi-posisi strategis di mana-mana. Di tangan pemimpin sejati, setiap anak buah bisa dijadikan pemimpin.

Tak ada yang menyangkal betapa menjemukanya menanti saat untuk menggantikan seorang pemimpin. Akan menjadi lebih berat lagi bila yang harus digantikan adalah seorang guru atau pemimpin besar. (Pemimpin besar tentu tidak akan merusak lembaga yang telah dibangun dengan kebesaran namaya).

Pemimpin itu lahir karena kekuatan institusi, metode pengembangan manusia dan tentu saja di sana ada orang-orang besar yang melahirkan pemimpin.

Orang-orang besar adalah pemimpin dengan kekuatan keyakinan dan percaya diri yang besar (self convidence). Tanpa jiwa besar tak ada kekuatan untuk melahirkan pemimpin dan membesarkan mereka.

Pada level 4 ini akan tercipta loyalitas, dan mereka patuh bukan karena jabatan kita, melainkan atas apa yang telah kita buat pada hidup mereka.

Level 5: Personhood

Menjadi pemimpin memang tidak mudah. Selain sekolah dan ujiannya panjang, perjuangannya pun berat. Itulah sebabnya banyak orang mengatakan, pemimpin besar sudah dari sononya begitu, alias mereka memang dilahirkan sebagai pemimpin dengan Change DNA atau leadership DNA yang unggul. Tentu saja hal ini tidak sepenuhnya benar.

Dalam hidup ini ada unsur-unsur bawaan yang dibawa dari lahir (Change DNA), tetapi ada juga pembentukan yang dilakukan oleh alam di sekitar kita.

Alam yang dahsyat adalah sang guru atau the master, yang menempa seseorang, menghancurkan belenggu-belenggu hidupnya sehingga seperti batu cadas yang kasar, berubah menjadi patung yang indah di tangan seorang pemahat yang andal, seperti pematung terkenal Michael Angelo.

Dengan berada di level 4, seseorang tinggal selangkah lagi untuk menduduki level 5. Jati diri yang dibentuk oleh karakter yang kuat akan menentukan apakah seseorang layak mendapat sebutan-sebutan istimewa seperti: sang guru, suhu atau pemimpin besar. ”They follow you because of who you are and what you represent.”

Itulah spiritual leader yang namanya menjelma dari nama biasa menjadi sebuah kekuatan pengaruh yang disegani. Ia adalah sebuah brand dengan daya tarik yang besar.

Pada level 5 ini, seseorang disegani karena orang respek kepadanya. Mereka respek bukan hanya atas apa yang telah ia berikan (secara personal) atau manfaatnya, melainkan karena nilai-nilai dan simbol-simbol yang melekat pada diri orang tersebut.

Disadur dari buku Re Code, Renald Kasali, PhD


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: