Jalan Indah Penuh Gairah

21 05 2010

Aktifitas itu bernama Assesment Kompetensi Perawat. Sebuah jalan yang cukup indah dan menyenangkan, kalau saja kita tahu arti dari filosofi yang dikembangkan. Orang banyak, menyebutnya sebagai Uji Kompetensi atau yang lebih keren bernama Sertifikasi. Kalau kita mau terbuka, banyak cara yang bisa dikembangkan untuk aktifitas ini. Salah satunya adalah WPA (Worksplace Assesment). Di samping ada OSCA yang diaplikasikan di PPNI DPD Jawa Tengah untuk syarat SIP dan NCLEX yang dikembangkan di Amerika.

Saya tidak akan membicarakan dua yang terakhir karena saya merasa tidak kompeten untuk itu. Yang akan saya bicarakan adalah tentang WPA yang memang saya tahu persis proses dan pendekatannya.

Bila digambarkan dalam diagram, maka seperti gambar di bawah ini :

dimodifikasi dari Presentasi Ahmad Alwi

Proses assesment bukan untuk mengevaluasi atau menguji perawat apakah dia kompeten atau tidak, tapi lebih ke arah pengakuan professional dan kreadibilitas perawat sendiri. Karena pada saat persepsi kita dibentuk “akan diuji”, maka yang tergambar di benak kita adalah ketakutan, cemas, ribet dan lain lain yang berujung pada bentuk penolakan dan keberatan.

WPA didesain bukan seperti itu. Dengan adanya permohonan dari peserta (calon asesi), maka WPA ditempatkan sebagai sebuah kebutuhan bagi perawat untuk diakui. Dan dalam aplikasinya, karena asesment yang dilakukan bertujuan untuk pengakuan perawat terhadap kompetensinya, maka sebelum dilakukan asesmen, ada proses konsultasi yang dinamakan Pre Asesment.

Pre Asesment ditujukan untuk menyiapkan peserta agar peserta tidak grogi, percaya diri dan lebih siap untuk di ases. Pre asesmen akan membangun kepercayaan calon peserta terhadap asesor (orang yang meng-ases), sehingga secara psikologis akan menurunkan kecemasan. Seorang asesor bukan polisi atau pengawas ujian yang harus ditakuti, apalagi berefek akan memunculkan dendam karena calon peserta dianggap tidak kompeten pada hasil akhir.

Bahkan pada saat pre asesmen, asesor akan melakukan klarifikasi terhadap self asesment yang dibuat sendiri oleh calon asesi. Dengan klarifikasi ini, asesor juga bisa menunjukan kepada calon asesi bahwa ada hal-hal yang sudah baik, cukup atau belum kompeten.

Ada prinsip prinsip yang sangat ketat harus ada dalam asesment ini, yaitu

  • Valid, artinya seluruh aktifitas asesmen mengacu kepada acuan pembanding (benchmark) yang valid. Bagi kita, ada acuan yang cukup populer yang sudah ditetapkan yaitu Keputusan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor  KEP. 148/MEN/III/2007 Tentang  Penetapan Standar kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Jasa Kesehatan Sub Sektor Jasa Pelayanan Kesehatan Bidang Perawatan, yang lebih dikenal dengan istilah SKKNI. Standar inipun digunakan sebagai kurikulum pendidikan perawat berbasis kompetensi.
  • Reliabel artinya instruksi yang diberikan kepada asesi (orag ang di ases) memastikan penerapan yang konsisten pada aktifitas asesmen dan jika digunakan oleh asesor yang berbeda, dalam situasi yang berbeda dan asesi yang berbeda, hasilnya tetap konsisten.
  • Fleksibel dimana seluruh aktivitas asesmen memenuhi kebutuhan asesi dan organisasi.
  • Adil yang berarti aktifitas-aktifitas asesmen memenuhi kebutuhan dan karakteristik asesi serta bebas dari bias dan memberikan kesempatan bagi asesi yang memiliki kebutuhan khusus.

Dengan empat prinsip dasar ini yang sudah sama sama diketahui oleh asesor dan asesi, maka sesungguhnya asesi juga tahu dan paham betul, dimana kelemahan dan kekurangannya, seandainya asesor menyatakan tidak kompeten. Bahkan seluruh keputusan asesor juga ditanda tangani oleh asesi, sehingga sesungguhnya seorang asesor hanya membantu asesi meyakinkan bahwa dirinya memang sudah kompeten terhadap standar yang diases.

Sangat berbeda dengan sistem ujian yang kita tahu selama ini di sekolah-sekolah biasa. Betapa di sana sangat tergantung dari penguji. Jika pengujinya dermawan maka banyak lulusnya, tapi jika pengujinya killer, alamaaak…… mati kutu kita.

Skema gambar di atas juga menggambarkan aktifitas kita setelah dinyatakan kompeten maupun tidak kompeten. Setelah dinyatakan kompeten, maka seorang perawat berhak menyandang predikat sesuai tingkatnya, bahkan bila asesmen kompetensi ini mendapat dukungan manajemen di institusinya, maka jenjang karir dan remunerasi adalah tujuan lain dari asesment kompetensi ini.

Lalu bagaimana dengan mereka yang dinyatakan tidak kompeten? Jangan khawatir dan tidak perlu malu. Hasil WPA bersifat rahasia, hanya diketahui oleh sedikit orang yaitu asesi sendiri, asesor dan mereka yang berkepentingan diantaranya orang yang menandatangani sertifikat, team yang menyusun jenjang karir dan remunerasi.

Bagi yang dinyatakan tidak kompeten paska WPA, juga bukan kemudian disingkirkan atau didiskualifikasi, tapi justru dibina dan diarahkan untuk mencapai kompetensi yang dianggap belum tercepai tersebut dengan cara CBT. Gambar di bawah ini dapat menunjukan kondisi itu.

sumber : presentasi Ahmad Alwi

Dan jika proses ini dilalui dengan baik, maka saya meyakini profesi ini akan melalui jalan indah yang dipenuhi dengan gairah. Gairah untuk belajar, gairah untuk meniti karir, gairah untuk komitment terhadap standar dan juga gairah untuk komitment memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat karena WPA ini juga bertujuan untuk menunjukan komitmen individu terhadap profesi dan lifelong learning serta memberikan penghargaan dan pengakuan professional kepada perawat yang telah mencapai kompetensi yang dipersyaratkan dalam bentuk sertifikasi level jenjang karir.

Selamat mengikuti trainingnya bersama BNTC & BNSP…….


Aksi

Information

2 responses

21 05 2010
wawan yusrodi

Mudah mudahan apa yang di tulis pak Jason, menemui jalan terang. jalan terang yang aku maksud, tidak akan datang begitu saja. ini adalah kompetensi kaum perawat, bila sang perawat sendiri tak pernah mau meningkatkan atau sekedar untuk diakui kompetensinya oleh sejawat, atau bahkan lebih jauh lagi oleh profesi lain, maka jalan yang sebenarnya terang ini, tak kan pernah mampu menuntun kaum kita untuk BERDIRI TEGAK DI KAKI SENDIRI.
wahai kaumku, begitu mulia kompetensi ini, namun tak bersinar semulianya?????

21 05 2010
alwee

Wah.. Pak Jason langsung membagikan ilmunya neh…. Makalah lengkap juga boleh ditampilkan pak…

jason : iya lah Pak. Biar gak pada salah paham

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: