Beginilah Nasib Perawat

5 05 2010

Akhir April yang lalu, ada sebuah e mail masuk ke web site administrator rumah sakit. Email itu kurang lebih tertulis begini

“mohon maaf ……..saya memberi sedikit masukan……. demi kebaikan rs………..  TOLONG KEPADA PENGELOLA RS….. UNTUK MEMBERIKAN BIMBINGAN LAGI KEPADA PARA PERAWAT…….  MENGENAI BAGAIMANA MELAYANI PASIEN MAUPUN KELUARGA PASIEN……. LAYANILAH DENGAN KEIKHLASAN…….RAMAH…..DAN ANGGAPLAH PASIEN SEBAGAI KELUARGA KITA……. KESEMBUHAN BUKAN HANYA DIDAPAT DARI OBAT……… TAPI JUGA DUKUNGAN SUASANA YANG NYAMAN DAN PENUH KEDEKATAN…… PERAWAT DI RS BANYAK YANG MENGABAIKAN HAL ITU…… (maaf…dengan kata lain… perawat di rs banyak sekali yang JUDES….) terimaskasih.”

Membaca e mail itu, saya sedikit geli karena memang tidak percaya. Hari gini masih ada yang mengatakan perawatnya judes? Tapi tidak papa. Itu sebuah masukan positif bagi kami, siapa tahu memang masih ada perawat yang judes di rumah sakit ini. Tapi kalau dibilang banyak sekali yang judes, orang yang rasional pasti tidak akan percaya.

Sayapun iseng mencari identitas alamat e mail itu. Siapakah gerangan yang mengirim dengan nada kecewa terhadap perawat itu? Dalam hitungan menit, akhirnya saya dapatkan datanya dan tidak sampai satu jam, sayapun dapatkan data pasien yang dirawat. Maka dalam waktu cepat, sayapun mendapatkan klarifikasi lengkap kejadian per kejadian terhadap pasien itu. Dan dugaan saya benar, kegelian sayapun ternyata beralasan. Ceritanya begini……..

“Sore hari ada pasien bayi masuk ke RS dengan partus luar, suhu badan panas dan tidak mau menetek. Dokter Spesialis Anak mendiagnosa sepsis. Pemeriksaan laborat lengkap pun dilakukan, therapi standar dikerjakan, perawatan dilakukan dengan intensif.

Prosedur perawatan di ruang Perinatal memang tidak diperkenan keluarga masuk, kecuali Ibu dari sang bayi yang akan menyusui. Terhadap hal ini, bagi sebagian keluarga mungkin tidak berkenan. Tapi selalu perawat pasti menjelaskan alasan alasannya. Bahkan setiap prosedur, setiap therapi dan setiap pemeriksaan juga selalu dijelaskan.

Tapi memang bagi orang yang merasa sudah tahu dan merasa lebih pandai, penjelasan perawatpun kadang tidak dianggap dan diabaikan, dan hanya dengan dokter saja mereka manggut manggut.

Termasuk keuarga pasien ini. Setiap bertanya dan dijelaskan oleh perawat, sebelum perawat selesai bicara,  sudah dipotong dulu dengan ungkapan sudah mengerti.

Bahkan terhadap hasil laboratorium juga sangat tidak sabar, menuntut segera ada hasil, dan tercatat, telpon ke Instalasi Laboratorium selama satu hari sampai 17 kali. Ini bisa masuk dalam daftar telpon terbanyak oleh satu orang ke sebuah instalasi.

Dan lain lain kejadian yang cukup membuat perawat mengelus dada. Tapi tetap saja teman teman perawat memberikan perawatan terbaik, terbukti dari kondisi sepsis bisa tertolong selamat sampai layak dibawa pulang. Bahkan sampai keinginan yang tidak rasionalpun dari pasien dilayani dan dibiarkan dengan ungkapan yang cukup halus………. ya silahkan kalau Bapak menghendaki anaknya mau dibawa pulang. Tapi kalau saya sarankan jangan dulu, karena butuh observasi sehari dua hari.

Ungkapan seperti itupun dijawab dengan nada tinggi. Bahkan ketika dokter muda menjelaskan penyakitnya dengan kemngkinan kemungkinan penyebab yang cukup banyak, diapun menjawab, “Saya tidak mau kemungkinan kemungkinan!”  ……………………

Itulah secuil kisah tentang perawat. Sudah berniat baik dan bekerja dengan baikpun belum tentu dinilai baik, bagaimana kalau bekerja dengan buruk?

Tapi di sisi lain, kitapun memang harus menyadari. Pasien dan keluarga pasien, menghadapi kondisi sakitnya memang berpengaruh terhadap psikologis mereka. Cemas, tegang dan kesedihan bercampur aduk. Siapa lagi yang akan menjadi sasaran emosi mereka kalau bukan perawat yang jelas berinteraksi dengan mereka 24 jam.

Ketidaktrampilan menusukan jarum infus akan menjadi masalah, komunikasi agak keras akan menjadi masalah, membatasi kunjungan demi kebaikan pasien akan menjadi masalah bahkan air kran tidak ngalirpun akan jadi masalah, dan semua ditumpukan kepada perawat.

Sabar……… adalah kunci penyelesaian semuanya. Karena profesi perawat adalah pilihan kita sendiri.


Aksi

Information

2 responses

22 01 2011
antondewantoro

wajar saja kalau bekerja tidak ramah kalau dalam hati sudah mendongkol karena kesejahteraan perawat sering terpinggirkan. Mari kita serukan pada perawat2 muda yg baru lulus “jangan mau dibayar Murah” , mampir ke tulisan saya juga ya hehehe http://antondewantoro.wordpress.com/2011/01/07/tamat-sekolah-tamat-pula-riwayat/

4 06 2011
Sulfikar Aferil Praditya

Sukuri apa yang ada ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: