Resiko Menjadi Lokomotif Rumah Sakit

29 03 2010

Memang harus diakui, dokter adalah lokomotif-nya sebuah rumah sakit. Setidaknya itu ungkapan yang disampaikan oleh seorang teman dokter kepada saya. Dan sayapun mengakuinya. Walaupun dengan bercanda sayapun menyahutnya, “Dan perawat adalah masinisnya…..hehehehe.”

Cerita berikut adalah sebuah reality show yang akan saya sampaikan kepada Saudara pembaca budiman, betapa keadaan dokter memang menjadi tolak ukur persepsi kebanyakan orang dalam menilai sebuah rumah sakit.

Di sebuah rumah sakit di Kabupaten Antah Barantah, yang kebetulan banyak menjadi kiblatnya rumah sakit daerah dalam hal manajemen selama bertahun tahun, tiba tiba terjadi perubahan manajemen yang cukup drastis. Dan celakanya yang menjadi indikator utama penilaian kinerja oleh teman-teman di rumah sakit lain adalah kinerja dokter dan jasa pelayanan dokter. Itulah resiko ketika dokter dipersepsikan sebagai lokomotif rumah sakit.

Perubahan sebenarnya biasa biasa saja, tidak seperti yang dibayangkan orang, bahwa rumah sakit itu telah hancur. Tidak……. Ada perbaikan di sana sini, walaupun ada juga penurunan di sisi lain. Itupun bukan karena perubahan manajemen, tapi karena waktu saja yang berjalan terlalu cepat.

Di rumah sakit itu, sebenarnya kinerja dokter juga tidak sepenuhnya turun. Masih banyak dokter-dokter yang komitmen, kinerjanya bagus, masih berfikir dan berusaha keras untuk memberikan pelayanan terbaik. Tapi memang kalau indikator yang kedua (jasa pelayanan dokter) yang menjadi ukuran, ada teman dokter di Jakarta mengatakan, “Jasa pelayanan dokternya terjun bebas”.

Apakah dengan jasa pelayanan dokter yang oleh teman tadi dikatakan terjun bebas itu, serta merta menjadikan kinerja rumah sakit terjun bebas?

Ah…. rasanya tidak seluruhnya benar. Walaupun juga tidak seluruhnya salah. Karena pada kenyataannya, kinerja sebuah rumah sakit tidak semata mata ditentukan oleh kinerja dokter, apalagi hanya ditentukan oleh jasa pelayanan dokter.

Di rumah sakit tadi, kenyataannya kinerja rumah sakit secara umum masih tetap stabil, angka hunian masih tinggi, BOR masih rata rata 80%, retensi pasien di IGD selalu dijumpai karena harus antri masuk ke rawat inap, polikilinikpun relatif masih ramai, pendapatan rumah sakit juga masih mampu mencapai target.

Jadi sayapun agak kaget, ketika ada seorang teman menelpon saya mengabarkan katanya rumah sakit itu kinerjanya telah menurun drastis. Saya bertanya-tanya, “Apa indikatornya? Sebelah mana yang menurun drastis?”

Kalau yang dijadikan indikator kinerja rumah sakit adalah jasa pelayanan dokter, saya menyetujui. Tapi kalau yang dijadikan indikator kinerja adalah jasa pelayanan perawat, tentu pernyataan itu salah. Karena sistem baru yang diterapkan di rumah sakit itu, justru mengakomodasi semua pihak yang terlibat dalam karya pelayanan rumah sakit. Perbedaanpun tidak terlalu mencolok, walaupun tidak juga dikatakan sama. Tapi proporsional.

Dan yang pasti, jasa pelayanan tidak bisa dijadikan indikator untuk menilai kinerja rumah sakit. Kinerja rumah sakit akan dinilai oleh masyarakat, dievaluasi oleh masyarakat dan bahkan mungkin akan diadili oleh masyarakat. Manakala kinerja turun, masyarakat tidak akan mau lagi datang ke rumah sakit itu.

Dan di rumah sakit di Kabupaten Antah Barantah itu, masyarakat masih mempercayakan pertolongannya kepada rumah sakit itu. Jadi itulah resiko menjadi lokomotif rumah sakit. Ketika terjadi deficit bahan bakar, orang langsung mempersepsikan bahwa lokomotifnya tidak dapat berjalan, dan gerbongpun berhenti.

Padahal, ada lokomotif dan gerbong lain yang siap menjadi cadangan, apabila lokomotif utama benar-benar berhenti.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: