Komite Perawatan, Nasibmu Kini

7 02 2010

Dengan disahkannya Undang Undang no 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, ada sesuatu yang hilang di Profesi Perawatan. Sesuatu itu adalah Komite Perawatan, yang sebelumnya oleh Kepmendagri no 1 tahun 2002 telah disahkan menjadi sarat berdirinya sebuah rumah sakit daerah.

Dengan Undang Undang Rumah Sakit ini, Komite Perawatan sudah tidak menjadi kelompok yang dianggap penting di rumah sakit, setidaknya menurut yang membuat undang undang itu. Karena di BAB IX pasal 33 ayat b hanya disebutkan, “Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum dan keuangan.”

Di sini tidak menyebut sama sekali tentang Komite Perawatan. Bandingkan dengan Komite Medis. Undang undang mempersyaratkan adanya Komite Medis di sebuah rumah sakit dalam masalah pengorganisasiannya.

Ada beberapa catatan yang bisa kita ambil pelajaran dari keluarnya undang undang itu bagi Komite Perawatan :

  1. Mungkin semenjak 2002 sejak Kepmendagri dikeluarkan, profesi perawat di rumah sakit daerah tidak mempedulikan dengan Keputusan Mentri Dalam Negeri itu.  Walaupun Mendagri mengakui tentang adanya Komite Perawatan, tapi pada kenyataannya setelah 8 tahun keputusan itu diberlakukan, ternyata tidak semua RSUD memiliki Komite Perawatan. Padahal di Kepmendagri itu disebutkan di BAB II Pasal 6,  “Susunan organisasi Rumah Sakit Daerah sekurang-kurangnya terdiri dari; Direktur, Wakil Direktur; Sekretariat, Bidang, Komite Medik, Staf Medik Fungsional, Komite Keperawatan, Instalasi, Susunan Pengawas Intern”
  2. Mungkin Undang undang RS itu sebagai evaluasi atas keberadaan Komite Perawatan di rumah sakit. Diakui atau tidak, selain masih banyaknya rumah sakit yang tidak memiliki Komite Perawatan, banyak juga rumah sakit yang memiliki Komite Perawatan tapi tidak ada suaranya sama sekali. Komite Perawatan hanya sekedar terdengar namanya, ada pengurusnya dan mungkin ada kantornya, tapi absen dari aktifitas dan miskin kegiatan. Bahkan sebagian rumah sakit, keberadaan Komite Perawatan dimanfaatkan oleh sebagian anggotanya hanya untuk mengkritisi kebijakan Bidang Perawatan bahkan kebijakan Direktur Rumah Sakit. Hingga muncul konflik yang sama sekali tidak produktif dan tidak menguntungkan komunitas perawat.
  3. Mungkin kontribusi Komite Perawatan dianggap tidak ada atau setidaknya dipertanyakan. Mungkin ini yang menjadikan Komite Perawatan dianggap “adanya dan tidak adanya tidak pengaruh” Di sini kemampuan loby, komunikasi, bermain strategi, kerja keras, pengorbanan, cucuran keringat bahkan air mata, konsentrasi, membangun image, keseriusan dalam perjuangan, bijak  dalam sikap, kemampuan impression management menjadi begitu penting dikuasai dan dimiliki oleh Komite Perawatan. Idealisme yang dibangun tanpa dibalut persyaratan yang saya sebutkan di atas, hanya akan menimbulkan konflik yang justru menjadi kontra produktif.
  4. Mungkin Komite Perawatan tidak mampu menunjukan eksistensinya sebagai perwakilan Komunitas Perawat. Teman teman di rumah sakitpun kebanyakan mengakui eksistensi Bidang Perawatan dibanding Komite Perawatan. Hal ini sebenarnya bukan masalah Bidang Perawatan ada strukturnya dan Komite Perawatan tidak ada strukturnya. Tapi memang karena komitmen Komite Perawatan terhadap komunitas masih belum meyakinkan. Komite tidak mampu menunjukan kerja riil yang bisa dilihat oleh komunitas semacam advokasi, kepedulian, peningkatan kompetensi dll.
  5. Mungkin Komite Perawatan tidak mampu bersinergi dengan Bidang Perawatan disebabkan oleh “berebut pengaruh” di dalam komunitas. Ketika keinginan yang tinggi untuk mempengaruhi komunitas itu muncul, terkadang lepas kontrol dan terjerumus pada perilaku menyalahkan dan merendahkan Bidang Perawatan. Kondisi seperti ini justru akan semakin mengerdilkan peran Komite Perawatan, karena dengan merendahkan dan tidak mau menghormati Bidang Perawatan, saya mengibaratkan “menggali lubang kuburnya sendiri” , maka setelah lubang dibuat, untuk siapa kalau bukan untuk dirinya sendiri.

Dan mungkin masih sederetan lagi alasan lain, mengapa UU no 44 tahun 2009 tidak mengakomodasi Komite Perawatan. Silakan Saudara menuliskan di kolom komentar bila masih memiliki alasan lain.

Tapi memang, daripada Komite dan Bidang Perawatan tidak mampu bersinergi, mendingan tidak usah berdiri Komite Perawatan. Mengapa?

Karena tidak akan selamat, sebuah kapal besar yang berlayar di lautan lepas dinakhkodai oleh dua orang. Perawat adalah komunitas yang terbesar di rumah sakit. Maka bila Komite dan Bidang masing masing ingin menjadi nakhkoda, siap siaplah… komunitas perawatan akan bingung menentukan sikap, dan kapalpun tidak memiliki arah yang jelas yang pada akhirnya tenggelam di tengah samudra.


Aksi

Information

2 responses

7 02 2010
BuUgie

Setuju!!!! bener bgt pak,terus mana yang dikatakan perawat sdg berjuang?? berjuang terus tiada akhir….komite keperawatan tamat riwayat,klo pun ada kdg ga diberi kesempatan,klo pun ada kesempatan tidak bisa menggunakan kesempatan….tinggal aja berdoa,pasrah,kerja dengan amal….

23 04 2013
umar

pak jasen kami minta tolong di kirimi formula pembagian jasa di kamar operasi yg sesuai dgn kemenkes. trims pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: