Rekam Kesehatan Elektronik

18 03 2009

Adalah sebuah mimpi yang sudah lama muncul dalam benak profesi medis tentang sebuah catatan berbentuk elektronik. Bukan sekedar catatan biasa, tapi jauh lebih hebat dan lebih sempurna. Yang selalu menjadi perbandingan adalah di negara-negara tetangga semacam Philipina atau Malaysia.

Dokumen dalam bentuk Image dari Radiologi, hasil analisa dari pemeriksaan laboratorium, racikan obat dari apotik yang bersifat on line dari dokter yang memeriksa dll keadaan yang sangat ideal yang selalu menjadi acuan untuk membuat rekam medik elektronik.

Seminar, workshop, simposium, rapat kerja dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu pun telah berulang kali dilakukan. Mengingat bukan hal yang sederhana memang, untuk mewujudkan mimpi di atas. Masalah legalitas, barangkali yang selalu menjadi bahan diskusi dan perdebatan. Tapi sebenarnya UU Praktek Kedokteran pun sudah mengakomodasi walaupun sangat minim, umpamanya di penjelasan Pasal 46 di sana disebutkan, “dalam hal tanda tangan dalam rekam medik elektronik, dapat digantikan dengan personal identification number”.

Bahkan saat ini Depkominfo telah mengeluarkan UU Transaksi Elektronik, yang tentunya telah mengatur juga secara umum bagaimana dokumen elektronik itu dapat memiliki kekuatan hukum sah. Walaupun dalam UU TE itu tidak secara spesifik membahas tentang Rekam Medik Elektronik, tapi aturan umum UU itu menurut saya telah mengakomodasi kepentingan medis.

Tapi memang masalahnya bukan sekedar legalitas saja yang dihadapi dalam implementasi Rekam Medik Eletronik. Ada hal lain yang bisa jadi lebih urgen dari sekedar legalitas. Beberapa catatan yang saya inventarisir ketika akan mengimplementasikan Rekam Medik Elektronik yang sudah kami buat:

1.  Mind set siap untuk berubah. Bila resistensi terhadap perubahan kecil, maka potensi untuk menerapkan RME relatif menjadi mudah. Mengapa demikian? Hukum dalam setiap perubahan adalah bahwa “perubahan akan selalu memunculkan kegelisahan, kecemasan bahkan kadang chaos”. Maka persiapan secara mental harus benar-benar dilakukan.

2. Perbandingan antara dokter dengan pasien. Ini menjadi masalah krusial yang perlu diperhatikan ketika akan mengimplementasikan RME. Imposible, dokumen apapun (manual/elektronik) akan baik, apabila satu orang dokter dalam 3 jam menangani 50 pasien di rawat jalan. Memang perlu dilakuan penelitian, yang ideal berapa sih jumlah pasien untuk satu orang dokter dalam 3 jam di poliklinik.

3. Kehandalan Hard Ware dan Soft Ware. Dokternya ok, jumlah pasien per dokter ideal, tapi ketika komputernya lelet tentu akan sangat mengganggu kinerja dokter. Maka pemilihan Hard Ware dan penentuan Soft Ware baik Desain, Fitur, User Friendly menjadi faktor penting untuk kesuksesan implementasi Rekam Medik Elektronik.

4. Skill atau kemampuan dokter dalam masalah IT. Bagi dokter di kota-kota besar, laptop sudah bukan barang mewah lagi. Tapi bagi sebagian kecil dokter-dokter yang ada di pedesaan dan generasi sepuh, mungkin masalah IT menjadi beban tersendiri. Repot, tidak familiar, harus menggunakan kaca mata sambung dll layak untuk dipertimbangkan dalam implementasi.

5. Dengan kondisi krisis energi listrik di negara kita, perlu dipertimbangkan alternatif jalan keluar bila seandainya pasokan listrik tidak ada. Karena kadang penggunaan genset, tidak selamanya menyelesaikan masalah.

Dan mungkin masih banyak masalah-masalah lain yang bisa saudara tambah sendiri. Akhirnya…. Rekam Medik Elektronik tetap harus diupayakan dapat terealisir di rumah sakit rumah sakit di Indonesia, tapi…..butuh kerja keras untuk mengawali perubahan ke era digital ini.

Siapa yang berani…..????


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: