Mengapa NIC

29 11 2008

Saat ini kebutuhan dokumentasi asuhan keperawatan telah meningkat menjadi komputerisasi atau berbasis IT, mengingat sebagian besar teman-teman perawat di rumah sakit, ketika bicara tentang dokumentasi asuhan keperawatan, sangat sulit untuk mempresentasikannya dalam kondisi yang baik

Dokumentasi asuhan keperawatan masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting dan cenderung diabaikan. Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu, ada sebuah rumah sakit yang sedang dalam proses ke tipe B, datang ke tempat kami untuk studi banding. Komentar manajemen RS tersebut ketika menyinggung dokumentasi asuhan keperawatan katanya, “hanya menghabiskan kertas HVS”. Bayangkan….. sebuah rumah sakit yang dalam proses ke tipe B, manajemen rumah sakitnya masih beranggapan begitu.

Memang kita tidak bisa semata-mata menyalahkan manajemen rumah sakit. Bisa jadi teman-teman kita (para perawat sendiri) yang tidak mampu meyakinkan manajemen tentang urgensinya dokumentasi asuhan keperawatan. Atau bahkan mungkin, perawat sendiri yang menganggap dokumentasi asuhan keperawatan bukan sesuatu yang penting? Masih menganggap sebagai beban, menambah pekerjaan, tidak evisien dan lain-lain.

Kondisi-kondisi real itu kita hadapi di lapangan. Maka kemudian munculah ide bagaimana dokumentasi asuhan keperawatan itu menjadi praktis. Ada ide pembuatan coding, ada lagi ide model check mark. Dan yang paling populer adalah dengan sistem komputerisasi.

Namun untuk sampai ke sana, bukanlah sesuatu yang mudah, mengingat untuk menjadi sebuah sistem, bahasa yang digunakan haruslah bahasa yang standar. Ketika komputerisasi dokumentasi tidak menggunakan bahasa standar, percayalah………. sistem itu tidak akan memudahkan perawat, tapi malah akan menambah beban pekerjaan perawat.

Sementara kita di Indonesia, masih belum sepakat dan belum memiliki bahasa standar keperawatan yang dikenal dengan Standardized Nursing Language (SNL). Maka sistem komputerisasi yang di design oleh banyak institusi rumah sakit di Indonesia, juga banyak sekali versinya.

Setiap individu mengembangkan pemikiran pribadi tentang rencana perawatan atau aktifitas keperawatan dengan mengambil ide dari satu dengan lainnya, menggunakan daftar aktifitas yang telah di hasilkan dari perencanaan perawatan (renpra) yang digunakan pada institusi atau secara curah pendapat ( braninstorming ).

Karena keterlibatan intervensi keperawatan telah mempertimbangkan berbagai kumpulan tindakan, dalam daftar komputerpun terdapat ribuan tindakan dan rencana asuhan keperawatan. Meskipun daftar “terstandarisasi” telah disetujui dan berguna bagi sebuah intitusi, hal ini sangat tidak mungkin setiap institusi mempunyai daftar yang sama. Inkonsistensi ini disebabkan oleh ketidakmampuan institusi dalam mengumpulkan data pembanding dari berbagai institusi yang lain.

Pada tahun 1983, sebuah kelompok studi di Amerika dalam konfrensi tentang sistem informasi keperawatan mengatakan bahwa “meskipun perawat menghabiskan waktu mereka untuk mendokumentasikan asuhan yang mereka berikan, dokumen tersebut tidak dibuat secara sistematik untuk meningkatkan kemajuan pengetahuan keperawatan, pengembangan praktik keperawatan atau untuk meningkatkan asuhan pasien”.

Pada tahun 1984, Ziestroff mengatakan bahwa kesulitan utama untuk mengembangkan sistem informasi keperawatan yang terkomputerisasi adalah kurangnya dasar pengetahuan keperawatan.

“Mereka yang bekerja dalam disain dan pengembangan sistem informasi keperawatan secara konstan mengeluhkan kenyataan bahwa adanya masalah klinik yang sangat sedikit dalam keperawatan dimana etiologi, gejala, tindakan dan kriteria hasil yang diharapkan diketahui. Tidak diketahuinya kemungkinan estimasi dan prevalensi atau insiden yang umum pada masalah keperawatan atau gejala yang berhubungan dengan diagnosa atau intervensi dan kriteria hasil. Tentu saja, ada sebuah terminologi standar atau sebuah format yang secara luas telah diterima untuk mengumpulkan data. Hal ini tidak mungkin mendapatkan aturan yang baik dan cepat untuk asisten komputer dalam pembuatan keputusan untuk sebuah data yang tidak jelas”.

Pada Januari 1988, the National Center for Nursing Research ( NCHR ) melakukan sebuah konfrensi dalam Prioritas Penelitan dalam Ilmu Keperawatan dan mengindentifikasi perkembangan sistem informasi keperawatan sebagai prioritas utama. Saat ini, dengan adanya Computerized Patient Record ( CPR ), kebutuhan menjadi lebih besar dari sebenarnya.

Simpson telah membuat skema 12 keperluan yang harus dimiliki oleh dokumen yang terkomputerisasi. Keperluan no 10 adalah pengumpulan data yang mendukung CPR dimana dapat mendukung masukan langsung dan penyimpanan informasi para praktisi berdasarkan sebuah kosakata yang ditetapkan.

McCormick, yang membicarakan tentang prakondisi untuk sebuah dokumen terkomputerisasi yang terintegrasi mengatakan bahwa ada dua hal yang menyangkut pra kondisi yaitu ( 1 ) penggunaan data yang valid dan teruji ( 2 ) standarisasi dan penyeragaman kumpulan data.

Nah, Nursing Intervention Clasification (NIC) bersama dengan klasifikasi diagnosa keperawatan (NANDA) dan outcome pasien (NOC) , memberikan perawatan dengan elemen data klinik untuk dokumentasi pasien secara otomatis (komputerisasi).

Di Indonesia, ketika dokter ramai-ramai belajar ICD X karena berhubungan dengan INA DRG yang dijadikan dasar untuk klaim biaya perawatan pasien di RS, mustinya kita juga harus ikut ribut mempertanyakan “Apakah peran perawat yang 24 jam nungguin pasien terakomodasi dalam INA DRG itu?” Kalau toh kemudian ada manajemen rumah sakit akan mengakomodasi kontribusi perawat dalam INA DRG, apakah perawat mampu menunjukan item-item apa yang dikerjakan oleh perawat yang layak untuk dihargai?

NIC lah sesungguhnya yang mampu menjawab tantangan itu. Dengan NIC kita akan percaya diri, dan mampu menunjukan apa kontribusi perawat terhadap penyembuhan pasien.


Aksi

Information

One response

29 11 2014
ALI RIF'AN

Maaf Pak Jason….saya Ali Rif’an dari Komite Keperawatan RSUD Kudus, mohon berkenan share NIC yang jumlahnya 530 itu. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: