Berkenalan dengan NANDA-I

30 10 2008

NANDA-I 2007-2008 Saya orang yang bekerja di institusi pelayanan (rumah sakit). Sebagai orang yang cukup senior di rumah sakit, saya tentu tahu persis bagaimana teman-teman saya sesama perawat, dari generasi yang sudah usianya di atas 50 tahun sampai di bawah 25 tahun. Saya juga mengenal baik teman-teman yang dulu sekolah di PKU, PKC (degree pra SPK) kemudian mereka mengikuti persamaan SPK dan DIII. Termasuk saya adalah jebolan SPK yang kemudian mengikuti DIII dan S1. Setelah seluruh perawat di rumah sakit saya lulusan DIII, dan sekarang mayoritas usianya muda-muda dengan basic DIII Keperawatan dari berbagai macam institusi pendidikan, sudahkah semuanya sepaham terhadap satu saja dari Diagnosa Perawatan?
Contoh sederhananya begini. Pada suatu saat saya mengisi training dan ceramah kepada teman-teman saya, saya tanyakan, ”Jika pasien mengeluh kesakitan di daerah perut, keluar keringat dingin, diagnosa perawatan yang paling pas untuk pasien ini apa?”


Si A dari DIII Keperawatan X menjawab, ”Gangguan rasa nyaman”
Si B dari DIII Keperawatan Y menjawab, ”Gangguan rasa nyaman nyeri”
Si C dari DIII Keperawatan Z menjawab, ”Ketidaknyamanan”
Si D dari DIII Keperawatan W menjawab, ”Nyeri”
Bisa dibayangkan, jika ada perawat di satu rumah sakit latar pendidikan DIII Keperawatan dari 10 institusi yang berbeda, mungkin akan ada 10 diagnosa keperawatan untuk satu pasien dengan keluhan yang sama. Atau bisa jadi 14 diagnosa yang berbeda, karena satu institusi pun kadang-kadang antar mahasiswanya tidak memiliki persamaan persepsi tentang Diagnosa Keperawatan terhadap satu kondisi pasien. Kok bisa demikian ya? Dan mereka tidak bisa disalahkan, karena memang sampai hari ini, profesi perawat di Indonesia belum memiliki standar baku tentang Diagnosa Keperawatan (yang lebih lengkap disebut SNL). Sayapun berani taruhan, jangankan antar mahasiswa, antar dosen pun kondisinya tidak jauh berbeda.
Di bangku kuliah dari DIII, S1 bahkan mungkin S2 kita, kayaknya juga belum ada Mata Kuliah tentang Diagnosa Keperawatan. Sehingga suudzon (negative thinking) saya, Diagnosa Keperawatan belum mendapat tempat di kurikulum pendidikan keperawatan.
Memang menjadi ajaib. 15 tahun perawat Indonesia memproklamirkan diri menjadi profesi yang mandiri, diagnosa perawatan yang baku masih belum dimiliki. Padahal NANDA-I sudah memperkenalkan kemandirian jauh-jauh hari, dimulai dari ”memiliki diagnosa sendiri.” Silakan buka buku Nursing Intervention Clasification (NIC), kita akan tahu, betapa Diagnosa Keperawatan (NANDA) disejajarkan dengan ICD X (International Clasification Diagnosis X) yaitu daftar Diagnosa Penyakit yang selama ini digunakan oleh dokter sebagai standar diagnosis.
Beberapa kali dalam seminar dan pelatihan, konsep ini saya sampaikan, tapi jawaban yang selalu terlontar, ”NANDA tidak sesuai dengan karakter orang Indonesia.” Atau yang lebih halus, ”Ruh kita sebenarnya sudah sesuai dengan NANDA.” Atau saudara kepengin tahu jawaban yang melecehkan? Ada seorang pembicara ketika dilontarkan tentang NANDA, NIC dan NOC, komentarnya begini, ”Apa itu NAK NIK NUK?” Sebagai seorang ilmuwan, mustinya tidak demikian. Karena kalau kita lihat biografi yang menyusun NANDA, siapa mereka? Tidak sedikit yang Master, Doktor bahkan Profesor dan semuanya RN. Kunjungi situsnya di http://www.nanda.org.
Saya tidak sedang membela pemikiran saya, membela NANDA atau membela PSIK UGM Yogyakarta yang pertama mempopulerkan NANDA, tapi mari kita berfikir rasional. Kita tidak perlu arogan menerima konsep baru, daripada kita tidak memiliki konsep.
Secara pribadi saya memberikan apresiasi kepada Dr. Ratna Sitorus, M.App.Sc yang telah memberikan komentarnya dalam sebuah workshop aplikasi NANDA, NIC, NOC yang kami adakan akhir 2006. Komentar Beliau, ”Kalau NANDA sudah kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia, saya pikir itu sudah ada nilai-nilai ke-Indonesia-an yang masuk.”

NANDA-I
North American Nursing Diagnosis Assosiation – International (NANDA-I) menyusun klasifikasi Diagnosa Keperawatan dan selalu memperbaharuinya. Saat ini setidaknya lebih dari 160 Diagnosa Keperawatan. Penggunaan diagnosis keperawatan berbasis NANDA dapat membantu penyusunan Standard Nursing Care Plans bagi institusi pelayanan kesehatan terutama rumah sakit.
Nursing diagnoses mendeskripsikan respon pasien, keluarga dan komunitas terhadap masalah kesehatan / proses kehidupan yang aktual maupun potensial. Nursing diagnoses juga menjadi dasar bagi pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan (outcome) , yang dapat dipertanggungjawabkan oleh perawat.
Setiap nursing diagnosis dari NANDA-I mempunyai definisi, defining characteristics (signs/symptoms) dan related/risk factors (etiologies). Bila kita asosiasikan dengan Diagnosa Penyakit, maka hamper sama di mana di sana juga memiliki definisi, tanda-gejala dan penyebab. Sebagai sebuah contoh :
Nursing Diagnosis:
• Knowledge Deficit: Medication (p.118)
Definition: Absence or deficiency of cognitive information related to a specific topic
Defining Characteristics (signs/symptoms): Verbalization of problem, Inaccurate follow-through of instruction, Inaccurate performance test, Inappropriate or exaggerated behaviors (e.g. apathetic, hysterical, hostile, agitated)
Risk/Related Factors (etiology): Cognitive limitation, Lack of exposure, Lack of recall, Information misinterpretation, Lack of interest in learning, Unfamiliarity with information resources

NANDA-I mengklasifikasikan Diagnosa keperawatan dengan Domain, Kelas dan Diagnosa. Ada 13 Domain yang dibuat NANDA-I yaitu :
1. Peningkatan Kesehatan
2. Nutrisi
3. Eliminasi/Pelepasan
4. Aktivitas/Istirahat
5. Persepsi/Kognisi
6. Persepsi Diri
7. Peran Hubungan
8. Seksualitas
9. Toleransi Koping Stress
10. Prinsip Hidup
11. Keselamatan Proteksi
12. Kenyamanan
13. Pertumbuhan / Perkembangan

Masing-masing Domain memiliki Kelas dan masing-masing Kelas memiliki Kelompok Diagnosa. Beberapa contoh saya tunjukan di bawah.

1. Domain Peningkatan Kesehatan
Kelas 1 Kesadaran kesehatan
Kelas 2 Manajemen kesehatan, diagnosa yang masuk: Manajemen rejimen terapeutik efektif, Manajemen rejimen terapeutik tdk efektif

2. Domain Nutrisi
Kelas 1 Ingesti, diagnosa yang masuk : Pola makan bayi tdk efektif, Kerusakan menelan, Ketidakseimbangan nutrisi :kurang, Ketidak seimbangan nutrisi: lebih, Resiko ketidakseimbangan nutrisi : lebih
Kelas 2 Digesti
Kelas 3 Absorpsi
Kelas 4 Metabolisme
Kelas 5 Hidrasi, diagnosa yang masuk : Kurang volume cairan, Resiko kurang volume cairan, Kelebihan volume cairan, Risiko ketidakseimbangan volume cairan, Kesiapan dlm peningkatan keseimbangan cairan

3. Domain Eliminasi/Pelepasan
Kelas 1 Fungsi urinary, diagnosa yang masuk : Kerusakan eliminasi urin, Retensi urin, Inkotinensia urin total, Inkontinensia urin fungsional, Inkontinensia urin reflek
Kelas 2 Fungsi gastrointestinal, diagnosa yang masuk: Inkontinensia usus, Diare, Konstipasi, Risiko konstipasi
Kelas 3 Fungsi integumen
Kelas 4 Fungsi respiratorik, diagnosa yang masuk : Kerusakan pertukaran gas

4. Domain Aktifitas/Istirahat
Kelas 1 Istirahat / tidur, diagnosa yang masuk: Gangguan pola tidur, Kurang tidur, Kesiapan dlm peningkaan tidur
Kelas 2 Aktifitas latihan, diagnosa yang masuk : Risiko sindroma disuse, Kerusakan mobilitas fisik, Keruskan mobilitas fisik di tempat tidur, Kerusakan kemampuan berpindah, Keterlambatan pemulihan pembedahan
Kelas 3 Keseimbangan energy, diagnosa yang masuk : Gangguan lahan energi, Kelelahan
Kelas 4 Respon kardio pulmonal, diagnosa yang masuk: Penurunan curah jantung, Kerusakan ventilasi spontan, Pola nafas tdk efektif, Intoleransi aktifitas, Risiko intoleransi aktifitas, Perfusi jaringan tdk efektif
Kelas 5 Perawatan diri

5. Domain Persepsi/Kognisi
Kelas 1 Perhatian
Kelas 2 Orientasi
Kelas 3 Persepsi / sensori, diagnosa yang masuk : Gangguan persepsi sensori
Kelas 4 Kognisi, diagnosa yang masuk : Kurang pengetahuan, Kebingungan akut, Kebingunangan kronis
Kelas 5 Komunikasi, diagnosa yang masuk: Kerusakan komunikasi verbal, Kesiapan dalam peningkatan komunikasi.

6. Domain Persepsi Diri
Kelas 1 Konsep Diri, diagnosa yang masuk: Gangguan identitas personal, Ketidakberdayaan, Putus asa
Kelas 2 Harga Diri, diagnosa yang masuk : Harga diri rendah kronis, Harga diri rendah situasional
Kelas 3 Gambaran Diri, diagnosa yang masuk: Gangguan citra tubuh

7. Domain Peran/Hubungan
Kelas 1 peran pemberi perawatan
Kelas 2 hubungan keluarga
Kelas 3 penampilan peran, diagnosa yang masuk : Menyusui tidak efektif

8. Domain Seksualitas
Kelas 1 identitas seksual
Kelas 2 fungsi seksual, diagnosa yang masuk: Disfungsi seksual, Pola seksualitas tdk efektif

9. Domain Koping/Toleransi terhadap Stress
Kelas 1 respon post trauma, diagnosa yang masuk : Sindroma trauma perkosaan
Kelas 2 respon koping, diagnosa yang masuk: Takut, Cemas
Kelas 3 stress neurobehavioral

10. Domain Prinsip Hidup
Kelas 1 Nilai
Kelas 2 Kepercayaan
Kelas 3 Nilai / kepercayaan / kesesuaian diri

11. Domain Keselamatan/Perlindungan
Kelas 1 infeksi, diagnosa yang masuk : Risiko infeksi
Kelas 2 cedera fisik, diagnosa yang masuk : Kerusakan membran mukosa oral, Risiko cidera, Kerusakan integritas kulit, Kerusakan integritas jaringan, Bersihan jalan nafas tidak efektif
Kelas 3 kekerasan
Kelas 4 lingkungan yang membahayakan
Kelas 5 proses bertahan
Kelas 6 termoregulasi, diagnosa yang masuk : Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh, Termoregulasi tidak efektif, Hipertermia

12. Domain Kenyamanan
Kelas 1 kenyamanan fisik, diagnosa yang masuk : Nyeri akut, Nyeri kronis, Nausea
Kelas 2 kenyamanan lingkungan
Kelas 3 kenyamanan sosial, diagnosa yang masuk: Isolasi sosial

13. Domain Pertumbuhan/Perkembangan
Kelas 1 pertumbuhan
Kelas 2 perkembangan

Diagnosa-diagnosa Perawatan dari NANDA-I yang ditampilkan di atas adalah diagnosa-diagnosa perawatan yang sering kita jumpai/muncul di lapangan, terutama rumah sakit. Sementara selebihnya banyak yang muncul di tataran praktek perawatan kesehatan masyarakat. Terhadap beberapa kelas yang belum ada diagnosanya, NANDA-I menyampaikan dalam catatan kakinya ”tobe develope”, artinya penelitian-penelitian masih terus dilakukan.


Aksi

Information

9 responses

1 04 2008
Wastu

Pak sudah dievaluasi belum penerapannya. Bagaimana respon perawat dalam menggunakannya dan bagaimana tanggapan mahasiswa dan manajemen ?

Kita teliti bersama yuk!

Jason menjawab:

Waah…. sepakat banget kalau diteliti. Tapi bukan pada respon penerapannya. Karena kalau hanya tahu respon dari perawat, mahasiswa atau manajemen, kayaknya banyak biasnya, karena kita dah menggunakan IT. Bagaimana kalau kita teliti out come ke pasien setelah menggunakan 3N, mungkin lebih keren kali.

Penelitian sebelumnya sudah dilakukan, tapi bicara tentang efektifitas dokumentasi dll. Aku tunggu deh kalau minat penelitian di RS ku.

20 09 2008
iis

saya salah satu mahasiswa S1 keperawatan,apakah anda dapat membantu saya dalam mempelajari diagnosa keperawatan?

20 09 2008
Jason

Mba Iis, apa yang bisa saya bantu? Silakan simak saja di blog ini pemikiran pemikiran saya, di halaman tentang NANDA juga saya sampaikan argumentasi-argumentasi tentang Diagnosa Perawatan.

8 11 2008
arifin

memang perlu adanya kesesuaian antar perawat seindonesia mengenai diagnosa keperawatan sehingga akan terlihat profesional seperti halnya dokter bisa dilihat persamaan antar dokter dalam mendiagnosa penyakit, banyak perbedaan pandangan mengenai diagnosa seperti yang telah diulas diatas, sehingga dalam penerapan di semua rumah sakit atau di manasaja perawat berada akan sama,thaks

Jason:
Ok…kita bareng-bareng mas Arifin… Mudah-mudahan segera terwujud.
Saat ini belum, karena bisa jadi PPNI, Direktorat Perawatan, Perguruan Tinggi atau yang lainnya belum memprioritaskannya. Jadi sabar saja. Yang penting kita harus memulai….

20 11 2008
hilmazaen

Setuju om, 3N sebagai pedoman dlm memberikan asuhan keperawatan. Tapi ada nggak standar asuhan keperawatan berdasarkan penyakit yang sudah menggunakan 3N, kayaknya lebih praktis jika diterapkan di sebuah ruang rawat inap yang belum pakai IT. Adakah informasinya …. Nuwun.

jason :
Kami sedang menyusun SAK dengan basis NNN. Doakan segera selesai dan bisa didownload di sini.

12 04 2009
tanto

mas terima kasih artikelnya aku belum pernah belajar nic noc cm otodidak ama ikut kalau ada workshop gt jd cr info buat nambah ilmu biar ga ketinggalan, lulus tahun 2001cm saat itu blm ada nic noc kalau bisa kasih artikel yg lengkap lg

jason:
Makasih atensinya. semoga bisa posting lbh lengkap lagi.

9 10 2009
suwarno, skep.ners

pak jason maaf ini baru pertama kali kita bertemu walao hanya lewat e-mail. begini pak jason sudah menerapkan aplikasi nanda nic noc utk rs banyumas bagaimana kalau bantu kami di rsjiwa kalten. agar SIM RS khususnya keperawatan bisa terlaksana. kalau boleh kisaran biaya semua berapa sehingga kami bisa menganggarkan utk thn depan. trim. bravo perawat semua………

24 01 2010
ihsan usman

saya sangat stuju dengan paparan diatas, sbg suatu profesi yang mandiri perlu referensi yan sama shg dlm aplikasi punya persefsi sama, kalau perlu diterbitkan satu buku dx kep persi indonesia, maju terus pemikir perawat, trims banget

21 02 2010
inggriane

salam pak Jason..NANDA NIC dan NOC betul – betul menjadikan kerangka fikir perawat jadi sistematis..yu..pelajari bener NANDA NIC dan NOC

jason : mudah mudahan begitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: