Reframing Proses Perawatan

27 10 2008

Sering kali saya mengisi training tentang Dokumentasi Asuhan Keperawatan, saya selalu bertanya kepada peserta, ”Apa yang menarik dari Proses Perawatan?” Dan kita pasti sudah tahu jawaban mereka, “tidak ada”. Dari dulu ketika membahas tentang pengkajian perawatan, kalimat yang paling dihafal oleh kita adalah ”head to toe”. Tidak ada yang menarik. Begitupun ketika membahas Diagnosa Perawatan, tidak pernah kita dengar sebuah uraian yang panjang. Yang kita hafal sampai hari ini paling-paling ”diagnosa perawatan terdiri dari Problem, Etiologi dan Simptom atau Problem dan Etiologi.” Sama halnya ketika membahas tujuan, kita cukup dikenalkan ”tujuan harus mengandung unsur SMART, ada tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek”. Intervensi dan Implementasi tidak jauh berbeda, yang membedakan adalah kalau intervensi menggunakan kalimat perintah, kalau implementasi menggunakan kalimat berita. Evaluasipun tidak ada uraian yang menarik, cukuplah evaluasi dengan sumatif atau normatif.Tapi biarlah itu masa lalu. Saat ini mari kita diskusikan tentang Proses Perawatan yang lebih menarik, yang membuat kita bergairah dengan cara memandang Proses Perawatan dari sudut yang berbeda (reframing) sehingga muncul pemikiran-pemikiran baru, dan ke sepan mudah-mudahan profesi kita menjadi semakin menarik untuk terus dikaji.

Pengkajian Perawatan

Sebagai sebuah bahan renungan bagi kita, saya membuat statemen ‘pengkajian medis untuk menegakan diagnosa medis dan pengkajian perawat untuk menegakan diagnosa perawatan’. Saya tidak sedang memaksa saudara untuk menerima statemen saya. Tapi mari kita diskusikan.

Bukankah format-format pengkajian perawatan yang ada di hampir seluruh rumah sakit di Indonesia menggunakan format pengkajian dokter? Dari mana kita tahu bahwa pengkajian itu menggunakan format dokter? Bukankah di headernya tertulis pengkajian perawatan? Kita tidak bicarakan tentang kepala surat, atau sebuah judul dari format pengkajian kita. Tapi lihatlah isinya. Di sana akan kita dapatkan bahwa kita hanya menjiplak pengkajian yang dilakukan oleh dokter yaitu dengan pendekatan sistem.

Ciri utama dari diagnosa medis adalah dengan menggunakan axis, maka yang dijadikan label adalah masalah yang dihadapi, organ yang terkena kemudian tempat/sisi mana dari organ itu. Contoh: fraktur cruris dektra, abses mandibula, katarak sinistra dll. Karena mengacu axis, maka pengkajian medis juga mengacu ke sana. Maka munculah pengkajian per sistem. Sistem apa yang mengalami problem, kemudian dikaji sampai detail, berpengaruhkan ke sistem yang lain? Mengkaji sistem gastrointestinal, mungkin berpengaruh juga ke sistem kardiovaskular. Jadi, pengkajian medis, memang untuk diagnosa medis.Lalu bagaimana dengan perawat? ”Pengkajian perawat untuk Diagnosa Perawatan”. Diagnosa perawatan yang kita anut selama ini tidak berdasarkan axis. Tapi berdasarkan respon pasien dengan formulasi PES atau PE. Walaupun ada diagnosa perawatan yang menggunakan axis yaitu ICNP (International Clasification Nursing Practice), tapi tidak populer di Indonesia. Diagnosa Perawatan yang kita anut saat ini lebih mengacu ke Amerika yang belakangan sumbernya diketahui adalah NANDA-I (North American Nursing Diagnosis Assosiation-International). Bila Diagnosa Perawatan yang kita pakai saat ini acuannya adalah NANDA-I dengan formulasi PES atau PE berdasarkan respon pasien, tentu tidak akan nyambung bila pengkajian perawatan kita menggunakan pendekatan sistem seperti yang digunakan oleh dokter. Kalau toh bisa nyambung, akan terlihat terlalu dipaksakan. Sebagai contoh : untuk diagnosa ”Nyeri Akut berhubungan dengan agen injury”, diagnosa ini akan dikelompokan ke sistem mana? Ke sistem cardiovaskular, ke sistem neurologi atau ke sistem respirasi? Karena gangguan rasa nyaman nyeri dapat terjadi di ketiga sistem tersebut. Diagnosa ”Hipertermi”, akan dimasukan ke sistem yang mana?Statemen saya tentang ”pengkajian perawat untuk menegakan diagnosa perawatan” bukanya tanpa dasar, tapi memang pakar-pakar NANDA-I sendiri membuat link antara diagnosa NANDA-I dengan pengkajian yang mereka rekomendasikan. Setidaknya ada dua model pengkajian yang direkomendasikan oleh NANDA-I agar pengkajian itu bisa link dengan diagnosa adalah pengkajian dengan ”11 Pola Fungsional dari Gordon dan 13 Divisi dari Doengoes dan Moorhouse”.Walaupun kedua model ini telah direkomendaskan, tapi bagi kita tidak terlalu populer, karena memang tidak secara khusus diajarkan di bangku kuliah. Kita hanya diminta untuk melakukan pengkajian bio-psiko-sosio-spiritual-kultural. Sehingga terhadap 11 Pola dari Gordon atau 13 Divisi dari Doengoes & Moorhouse banyak diantara kita yang tidak tahu apalagi hafal.Sekedar mengingatkan saja………..

11 Pola dari Gordon

Pola 1 : Persepsi Kesehatan Pengelolaan Kesehatan

Pola 2 : Nutrisi Metabolik

Pola 3 : Eliminasi

Pola 4 : Aktifitas Latihan

Pola 5 : Tidur – Istirahat

Pola 6 : Kognitif – Perseptual

Pola 7 : Persepsi Diri – Konsep Diri

Pola 8 : Peran – Hubungan

Pola 9 : Seksual – Reproduksi

Pola 10 : Kooping – Toleransi Stress

Pola 11 : Nilai – Kepercayaan

13 Divisi dari Doengoes & Moorhouse

Divisi 1 : Aktifitas Istirahat

Divisi 2 : Sirkulasi

Divisi 3 : Eliminasi

Divisi 4 : Reaksi Emosional

Divisi 5 : Makanan / Cairan

Divisi 6 : Higiene

Divisi 7 : Neurologis

Divisi 8 : Nyeri

Divisi 9 : Perubahan Hubungan

Divisi 10 : Keamanan

Divisi 11 : Seksualitas

Divisi 12 : Penyuluhan/Pembelajaran

Divisi 13 : Ventilasi

Sekali lagi, ini sebuah pemikiran yang mungkin salah atau mungkin juga benar. Tapi setidaknya kita memerlukan jalan keluar agar Proses Keperawatan kita menjadi sesuatu yang manarik untuk dipelajari, diteliti dan dikembangkan.

Sanggupkah kita lepas dari bayang-bayang profesi lain dalam mengkaji pasien?


Aksi

Information

4 responses

5 04 2008
Ns. Tomo

assalamu’alaikum
Setelah membaca artikel di blog ini, sungguh kembali menyadarkan saya kembali tentang proses perkembangan ilmu keperawatan di indonesia. dimana sudah lebih dari 20 tahun keperawatan di negara kita mengklaim sebagai suatu profesi. 20 tahun tu bukan waktu yang dikit kan?? tapi ternyata perkembangannya masih kayak jalan di tempat ya.. by the way kita ini sebagai generasi penerus keperawatan, harus tergugah, dan bergerak untuk mewujudkan “aktualisasi bagi ilmu keperawatan” serta aktualisasi peran perawat sendiri,minimal kita sebagai perawat bbisa merasa puas atau bangga dengan ilmu yang terus berkembang yang kita miliki… jadi apa ya yang kira2 bisa kita sumbangkan bagi kemajuan ilmu keperawatan yang kita cintai ini?? kira2 apa yaa..mungkin bisa dengan terus belajar dan belajar tg keperawatan di dunia (barat dan timur), atau mungkin bisa meneliti tentang penerapan 3N, atau kita bisa kuliah lagi, diskusi dg teman sejawat, atau memperluas sosialisasi kita dg tmn2 perawat, atau apa aja deh…
yuk kita mulai dari sekarang frenz… oya salam kenal dari saya buat semua pengunjung blog ilmu keperawatan ini, dan salam hormat saya bagi penulis artikel diatas. slmt pagi dan terima kasih..
wassalamu’alaikum

3 02 2009
subari

salam kenal
ponorogo mas
tlg kasih formatnya dong

jason:
Lam kenal balik Mas Subari. Formatnya besok-besok ya aq upload. Insya Allah.

5 01 2010
denny mariaty simbolon

hay lagi bikin apa ????????

3 10 2011
ratna

minta format dong mass

jason : formast mah sama saja Mba, yang beda tuh isinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: