Dharmais, Saya Berharap Kau Menjadi Pintu Gerbang Perubahan Itu

13 09 2008

 

Mengusung perubahan apalagi dengan paradigma dan konsep baru, tentulah bukan sesuatu yang ringan. Butuh kerja keras, perjuangan dan komitmen. Itu pula yang dilakukan kami dalam memperjuangkan NANDA, NIC dan NOC untuk menjadi sebuah standar baku Bahasa Keperawatan yang lazim disebut SNL (Standardized Nursing Language).

Kami hanyalah orang “kabupaten” (saya mau nyebut ndeso, khawatir orang sedaerah tersinggung). Rumah Sakit Banyumas yang letaknya saja bukan di ibukota kabupaten, tapi hanya di ibukota kecamatan. Dengan bangunan peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1921, bisa dibayangkan…apa yang kami miliki?

Bangunan yang usang, peralatan medis yang sederhana dan tenaga yang pas-pasan adalah pemandangan kami sehari-hari. Tapi mungkin kami memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan rumah sakit. Yaitu bahwa kami memiliki semangat kejuangan dan kekompakan dalam sebuah komunitas yang disebut Komunitas Perawat.

Modal itulah yang kami andalkan untuk membangun keperawatan. Semangat untuk belajar, kemauan pantang menyerah dan selalu memiliki keinginan untuk berubah menjadi lebih baik bersama komunitasnya. Meski bekerja di desa dengan sarana yang amat terbatas, kami diajak untuk membangun optimisme tentang masa depan. Walaupun dengan segala keterbatasan yang kami miliki. Tapi itulah hakekat perjuangan.

Mungkin sedikit berbeda dengan prinsip sebagian teman-teman kita. Bukankah betapa banyak pendekar-pendekar keperawatan yang hebat-hebat di negeri ini? Betapa banyak pakar-pakar keperawatan yang kita miliki di negeri ini. Tapi berapa banyak yang mau berjuang untuk kepentingan kebersamaan, kepentingan profesi dan kepentingan nasib banyak teman-teman kita?

Menerapkan konsep NANDA, NIC dan NOC adalah sebuah perjuangan. Walaupun kami telah mengenalkan konsep ini kepada beberapa rumah sakit di ibu kota Negara. Beberapa kali kami juga memperkenalkan dalam seminar, pelatihan ataupun workshop. Tapi hasil yang kami harapkan belum terlalu signifikan. Atau kah memang karena kami orang “kabupaten” itu, sehingga belum didengar suaranya?

10 September 2008 mudah-mudahan moment yang baik untuk kami. Saya diundang di Rumah Sakit Kanker Dharmais untuk mempresentasikan konsep baru itu. Tiga setengah jam lamanya saya bicara. Dengan bekal ijdihad kami, saya sampaikan satu persatu dari mulai SNL, NANDA, NOC dan NIC. Saya selalu meyakinkan kepada audient tentang betapa sederhananya konsep NNN itu. Begitu mudahnya konsep itu, sehingga sangat membantu dalam dokumentasi keperawatan. Tak lupa, saya meyakinkan bahwa ketika kita berani menerapkan konsep itu, kita akan menjadi percaya diri (PD) sebagai perawat dalam menuliskan apa-apa yang kita rencanakan dan lakukan.

Saya tidak tahu respon mereka dalam hati. Mungkin sekali ada yang bertanya, “Untuk apa kita ngurusi dokumentasi begitu. Toh selama ini kita sudah melakukan dokumentasi dan tidak ada yang protes.” Atau ada juga yang mungkin ragu-ragu, “Ah…apa untungnya bagi saya dokumentasi seperti itu. Apakah dengan menggunakan NANDA-NIC-NOC penghasilan saya akan meningkat?”………….. Tapi mudah-mudahan itu hanya prasangka saya saja.

Yang terbayang di benak saya, Dharmais adalah rumah sakit besar, berada di Ibu Kota Negara, rumah sakit terkenal, bahkan memposisikan dirinya sebagai The Center of National Cancer Hospital. Dengan berbagai kelebihan institusi yang dimiliki itu, ditambah lagi dengan tenaga keperawatan yang juga “hebat-hebat” (setidaknya itu yang disampaikan Direktur Utamanya), maka alangkah luar biasanya bila konsep baru NANDA-NIC-NOC itu dipopulerkan dari sana.

Memang benar kata orang bijak, air itu kalau mengalir akan jernih, tetapi kalau berhenti akan jadi sumber penyakit. Harimau musti keluar dari sarangnya untuk mencari mangsa kalau ingin makan. Mataharipun tahu diri kapan terbit dan kapan terbenam agar kehadirannya selalu dinanti. Anak panah tak akan mengenai sasaran kalau tidak meninggalkan busurnya.

Dan itu semua saya lakukan, keluar dari wilayah “kabupaten”, menuju ke wilayah kota, mulai dari RS Fatmawati, RS Persahabatan, temen-temen di Malang, temen-temen Dosen di Jogja, Mahasiswa Keperawatan di beberapa STIKES dll. Satu tujuan, mempopulerkan NANDA-NIC-NOC kepada teman-teman perawat di negeri ini.

Dan Dharmais……… saya berharap bisa menjadi pintu gerbang untuk tujuan itu. Bukan hanya orang “kabupaten” yang bicara tentang konsep itu, tapi orang-orang pusatpun ikut membicarakannya. Bayangkan, Institusi yang ‘hebat’ dengan SDM perawat yang ‘hebat’ maka mudah-mudahan akan menghasilkan sesuatu yang hebat pula.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: