Menjadi Pemimpin yang Disegani

1 10 2013

Profesi perawat menduduki porsi yang cukup besar jumlahnya di rumah sakit. Dengan jumlah yang besar, tentu memiliki kompleksitas persoalan yang sangat banyak pula. Terlebih dengan banyaknya ragam status kepegawaian, banyaknya ragam latar belakang pendidikan, banyaknya ragam status sosial ekonomi, banyaknya ragam persoalan pribadi dan lain-lain, menjadikan semakin kompleknya persoalan yang ada di profesi perawat.

Terlepas dari banyaknya persoalan itu, profesi perawat diharuskan memiliki visi dan tujuan yang searah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Visi rumah sakit seperti keselamatan pasien, kepuasan pelanggan dan lain-lain yang menjadi acuan dalam aktifitas perawatan, harus tetap diwujudkan. Di sinilah diperlukan pemimpin keperawatan yang disegani, yang memiliki integritas, kemampuan menggerakan dan kemauan bekerja keras untuk mewujudkan tujuan yang hendak dicapai.

Ada beberapa hal yang menjadi syarat agar seorang pemimpin disegani

  • Menguasai informasi

Penguasaan terhadap informasi yang valid dan akurat menjadi syarat mutlak seorang pemimpin dalam menjalankan aktifitas kepemimpinannya. Karena dengan informasi yang valid itulah, seorang pemimpin akan menyampaikan argumentasi yang kuat terhadap hampir semua persoalan dan jalan keluar yang ditempuh. Ketika seorang pemimpin tidak memiliki informasi yang cukup terhadap hampir semua persoalan, maka dia hanya akan dibohongi, kalah dalam argumentasi dan tidak memiliki sikap yang tegas.

  • Memiliki keahlian

Keahlian menjadi syarat yang cukup penting dalam menjalankan kepemimpinannya. Bahasa yang lebih populer di sebut kompeten. Setidaknya ada dua kompetensi yang perlu dikuasai oleh seorag pemimpin yang ingin disegani, yaitu kompetensi manajerial dan kompetensi di bidang yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin dalam keperawatan dituntut untuk menguasai konsep-konsep manajemen dan kepemimpinan. Karena konsep inilah yang akan dijadikan petunjuk dalam menggerakan gerbong perawatan. Manajemen dan kepemimpinan menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena manajemen adalah melakukan sesuatu dengan benar sedang pemimpin adalah melakukan sesuatu yang benar (Peter F Drucker).

Kompetensi kedua adalah kompetensi di bidang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin keperawatan, tentu harus dari perawat. Karena ada hal-hal teknis yang harus diselesaikan dengan pendekatan keahlian perawat. Ketika pimpinan tertinggi perawat di rumah sakit dijabat oleh selain perawat, maka perawat sebagai profesi tidak akan memiliki perkembangan dan kemajuan yang diharapkan. Dipercayapun juga tidak.

  • Berkharisma

Tentang syarat ini, kebanyakan berpendapat “merupakan gen bawaan dari lahir.” Walaupun sebenarnya hal ini bisa dipelajari.

  • Dapat memberikan ganjaran

Ganjaran tidak mesti dalam bentuk materi. Perhatian, kedekatan, kebersamaan, kesejajaran dengan komunitas adalah bentuk-bentu ganjaran yang tidak memerlukan materi yang banyak. Hanya butuh pengorbanan untuk memberikan semua itu. Jangan pernah sekalipun merendahkan kepada staf apalagi dengan kata-kata kasar. Sekali saja seorang pimpinan merendahkan stafnya, maka sejak saat itu dia talh kehilangan pamornya sebagai pemimpin.

Staf mungkin akan diam, tidak memberikan konfrontasi terbuka. Tapi saat ada kesempatan, staf akan memberikan piilihan mendukung konfrontasi (baca: pemberontakan) dalam berbagai cara, dari yang halus sampai yang kasar.

  • Mendapat legitimasi

Legitimasi penting bagi seorang pemimpin. Karena faktor inilah, ada ungkapan yang cukup menjadi pelajaran bagi kita “sumber kesalahan anda dalam karir dan pekerjaan adalah karena anda seorang staf”. Ungkapan ini hanya untuk menunjukan budaya di banyak organisasi. Bahwa jarang sekali seorang pimpinan mau mengakui kesalahannya. Kesalahan yang terjadi hampir selalu dilemparkan kepada anak buahnya, walaupun anak buahnya benar.

Sehingga legitimasi menjadi penting untuk seorang pemimpin. Legitimasi didapatkan bisa dengan surat keputusan (SK) atau karena mendapat dukungan mayoritas. Tapi seorang pemimpin yang hanya bermodal legitimasi, tanpa diikuti syarat-syarat lain di atas, hampir sama posisinya dengan seorang pria yang memiliki surat nikah, tapi dia tidak punya modal apapun untuk menghidupi istrinya, pengangguran, tidak mampu memberikan kasih sayang dan perhatian. Di atas kertas, statusnya sebagai suami (menikah) tapi pada kenyataannya dia tak bisa berbuat apapun terhadap istrinya.

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 76 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: